Trending

Soal sopirnya NU mabuk penumpang PKI, Gus Nur minta maaf kalau salah tapi…

Pendakwah Sugi Nur Raharja atau Gus Nur dipolisikan gara-gara komentarnya yang mengibaratkan NU sebagai bis, sopirnya mabuk penumpangnya liberal dan PKI. Setelah menjadi masalah, Gus Nur minta maaf tapi dia berdalih menyampaikan kritik pada NU struktural.

Gara-gara komentarnya itu, Gus Nur dipolisikan anak muda Nahdlatul Ulama (NU) yang menilai si pendakwah itu provokatif. Dalam podcast di kanal YouTube Refly Harun, Gus Nur mengibaratkan NU sebagai bis, sopirnya mabuk penumpangnya liberal dan PKI.

Baca juga: Jadi target Banser, Gus Nur kontak FPI minta pendampingan

Komentar itu menuai kemarahan dari sebagian kalangan NU. Komentar Gus Nur itu dinilai provokatif, alih-alih menyampaikan kritik pada NU, komentarnya malah memperkeruh suasana dan gaduh.

Makanya anak muda NU dari Jember Jawa Timur, Ayub Junaedid melaporkan Gus Nur ke polisi.

Gus Nur minta maaf tapi…

Gus Nur
Sugi Nur Raharja atau Gus Nur. Foto Instagram @gusnur13official

Dalam dialog di Kompas TV, Gus Nur debat dengan pelapornya tersebut secara daring.

Dalam debat itu, Gus Nur mempertahankan diri dan meminta pelapornya untuk objektif. Bahwa yang mengkritik NU ada banyak, bukan cuma dia saja kok.

Gus Nur menyebutkan ada ulama maupun penulis yang berlatar NU juga terang-terangan mengkritik NU. Tapi Gus Nur kok merasa hanya dia saja yang dipolisikan.

“Bahwa sekarang NU itu dipimpin orang sekuler dan liberal. Saya mohon maaf kalau saya salah ya. Mengatakan Banser dan NU akrab dengan penguasa,” katanya dalam debat.

Gus Nur berdalih, dia mengibaratkan NU seperti itu karena kecewa dengan struktur NU saat ini yang dekat dan lebih akrab dengan rezim penguasa saat ini.

Silakan marah ke rezim jangan ke NU

Lambang NU. Foto: kholidintok.net
Lambang NU. Foto: kholidintok.net

Merespons Gus Nur, Ayub heran kok pembelaan pendakwah itu nggak nyambung.

Kalau muak dan kecewa dengan rezim pemerintahan saat ini kok yang jadi sasaran malah NU.

“Kalau mau marah ke rezim ini ya silakan, jangan sampai mengarah pada NU atau yang lain. Silakan panjenengan (Anda) kritik, mau menunjukkan ketidaksukaan. Panjenengan pendakwah kok berikan provokasi,” katanya.

Ayub mengingatkan Gus Nur jangan asal kritik. Hendaknya kritik dilengkapi dengan data yang kuat.

“Kalau mau kritik dengan data, apalagi di Youtube Refly Harun. NU berisi orang PKI datanya mana, jangan asal bunyi,” tutur Ayub.

Gus Nur di kanal Refly Harun

Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun. Foto: Youtube/ReflyHarun
Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun. Foto: Youtube/ReflyHarun

Dalam perbincangan di kanal YouTube milik ahli hukum tata negara, Refly Harun, awalnya Gus Nur mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Nahdiyin namun bukan secara struktural, melainkan sebagai NU tradisional.

Baca juga: Buat yang nganggur, ada lowongan urus jenazah Covid, gajinya lumayan

Gus Nur pun membeberkan sejumlah kenyataan yang membuktikan bahwa saat ini NU telah berubah. Sebelumnya, ketika dia berkunjung ke berbagai daerah, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU selalu mengawal acara dakwahnya. Saat itu pula hubungan NU dengan dirinya baik-baik saja, tanpa ada masalah apa pun, namun semua berubah ketika rezim Jokowi lahir.

“Saya juga enggak paham, saya juga dulu enggak pernah ada apa-apa sebelum ada rezim ini. Kemana saya dakwah dikawal Banser, saya adem anyem sama NU, tidak pernah ada masalah,” ujar Gus Nur, pada 17 Oktober 2020.

Menurutnya, rezim Jokowi telah membuat NU berubah 180 derajat. Gus Nur pun mengibaratkan wajah NU saat ini seperti bis umum, di mana sopirnya merupakan seseorang yang sedang mabuk, kondekturnya teler, dan penumpangnya tak memiliki adab alias kurang ajar. Sehingga dalam pandangannya, kini NU tak sesuci dahulu kala.

“Tapi setelah rezim ini lahir, tiba-tiba 180 derajat (NU), berubah. Saya ibaratkan NU sekarang itu, seperti bis umum, sopirnya mabuk, kondekturnya teler, keneknya dan sopirnya ugal-ugalan dan penumpangnya itu kurang ajar semua. Merokok juga, nyanyi juga, buka-buka aurat, dangdutan juga. Jadi kesucian NU yang selama ini saya kenal itu seakan-akan enggak ada sekarang ini.” kata Gus Nur.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close