Trending

“Heran dengan warga Jakarta, situasi darurat tapi jalanan masih macet”

Anggota DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Partaonan Daulay mengaku heran dengan fenomena di tengah masyarakat, ketika Pemerintah ramai-ramai menggalakkan gerakan social distancing, namun anjuran tersebut seakan tak digubris. Masyarakat masih saja dikatakan tetap berkerumun di mana-mana.

Hal inilah yang kemudian dianggap Daulay, keliru soal penggunaan pendekatan bahasa yang dipakai pemerintah, yakni social distancing. Banyak masyarakat dianggap tak mengerti, sampai akhirnya tidak ikuti anjuran pemerintah.

Baca Juga: Jutaan kg masker RI kepergok dibawa ke China, Politisi PAN bilang begini

Bagi yang belum tahu social distancing adalah mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain, mengurangi kontak tatap muka langsung. Langkah ini termasuk menghindari pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi, seperti supermarket, bioskop, dan stadion.

Bila seseorang dalam kondisi yang mengharuskannya berada di tempat umum, setidaknya perlu menjaga jarak sekitar 1,5 meter dari orang lain.

Kata Daulay, ucapan pembatasan jarak sendiri pertama kali dipergunakan Presiden Jokowi saat berpidato, yang kemudian diserap banyak media untuk dipublikasikan.

“Sampai tadi pagi keluar Jakarta, kok jalanan masih macet. Itu artinya enggak ada social distancing. Masih tetap saja masyarakat berkerumun di mana-mana. Artinya kalau salah (penggunaan kata), bisa jadi komunikasi publik yang diterapkan enggak sampai,” kata Anggota Komisi IX DPR Fraksi PAN itu di sela acara ILC, tvOne, disitat Rabu 18 Maret 2020.

Daulay kemudian menyinggung soal seberapa siap pemerintah melakukan kampanye social distancing. Sebab banyak faktor yang harus dipertimbangkan, termasuk ekonomi dan kebiasaan masyarakat.

Gagal paham

Di satu sisi, ada hal lain yang membuatnya heran, dalam waktu dekat Pemerintah melalui Menko Perekonomian bilang kalau mereka bakal menggelontorkan lagi kartu prakerja pada pekan depan.

“Di saat kita social distancing, di saat ramai usulan lockdown, wabah ini, Pemerintah malah mengeluarkan anggaran Rp10 triliun untuk kartu prakerja. Orang lagi di rumah, bagaimana caranya bikin pelatihan BLK dan lain-lain. Ini lho, maksud saya, timingnya enggak tepat, kemudian anggarannya besar,” katanya lagi.

Komunikasi soal langkah ini turut dianggap Daulay belum berjalan dengan efektif. Ini berkaitan dengan apakah sudah melibatkan tokoh-tokoh agama. Sejumlah organisasi, kata dia, seperti Muhammadiyah dan NU memang sudah mengeluarkan imbauan di mana-mana, namun tetap saja belum diterima baik masyarakat.

Baca Juga: Beda kelas, Denny Siregar bandingkan Anies dan Risma hadapi corona

Dia kemudian mencontohkan soal anjuran jangan salat berjamaah di masjid. Yang dia pahami saat ini, berdasarkan data yang dikumpulkan, banyak masyarakat tak peduli dengan anjuran pemerintah.

“Yang saya pahami dari WA yang saya terima dari pagi sampai malam hari ini, mengatakan salat di masjid itu wajib. Kemudian, apakah kita takut dengan wabah ini justru kita tidak melaksanakan ibadah. Sebagian dari mereka mengatakan jangan takut, berserah dirilah kepada Allah, bahwa Allah akan bisa menyelesaikan masalah kita. Bahkan mereka menyertakan ayat-ayatnya untuk tetap salat jemaah di masjid.”

“Saya khawatir, kalau tidak dijaga dengan ketat, kebijakan yang diambil akan sia-sia,” katanya.

Terkait opini kritis, Daulay sendiri lebih memilih Pemerintah untuk segera melakukan lockdown. Sebab dengan kondisi seperti sekarang ini, keselamatan dan kesehatan warga lah yang jadi prioritas utama. Dan bukan lagi persoalan ekonomi.

Jika anggaran dirasa tidak cukup, Pemerintah, kata Daulay bisa mensiasatinya dengan sejumlah hal. Dan DPR ditegaskan siap untuk membantu.

“Kalau saya, ya sudah diselesaikan dulu lah dengan cara lockdown. Tegas. Di sinilah ketegasan kepemimpinan yang dipimpin Jokowi. Bagaimana nanti cara mengatasinya, kan namanya juga ujian pemerintah. Kalau ini tidak dilakukan, kita cuma hanya menunggu waktu saja. Jangan sampai menyesal seperti orang-orang Italia seperti sekarang.”

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close