Hobi

Studi: Filter Instagram bikin lupa muka asli kita seperti apa

Ketika membuka aplikasi di media sosial seperti Instagram, TikTok, atau Snapchat, mungkin kita akan melihat berbagai muka teman kita memakai filter.

Mulai dari filter bibir cemberut, tulang pipi setajam silet, hidung mancung, hingga filter unik dan kocak lainnya. Filter ini sendiri menggunakan augmented reality untuk menunjukkan seperti apa wajah dan tubuh pengguna dengan modifikasi instan.

Melansir Daily Mail, Kamis 5 Agustus 2021, sementara filter saat ini sangat populer, survei baru telah memperingatkan bahwa filter memiliki dampak negatif pada sepertiga dari nilai diri pengguna media sosial.

Terlebih lagi, seperempat dari orang yang disurvei mengatakan menggunakan filter telah membelokkan persepsi mereka tentang penampilan mereka dan membuat mereka kaget dan syok ketika melihat foto asli yang tidak diedit.

Survei yang dilakukan oleh perusahaan kosmetik asal Inggris, Uvence menanyakan kepada 2.069 responden bagaimana perasaan mereka tentang filter di media sosial. Seperlima mengatakan, mereka tidak mau memposting foto di medsos tanpa pengeditan yang menghilangkan kerutan, bintik-bintik, atau stretch mark.

Ilustrasi aplikasi Instagram. Foto: Phil Desforges di Unsplash
Ilustrasi aplikasi Instagram. Foto: Phil Desforges di Unsplash

Sementara itu, 37 persen mengatakan mereka lebih memilih wajah yang difilter daripada wajah asli mereka untuk diposting di media sosial.

Ahli bedah kosmetik Dr Olivier Amar, kepala pemasaran Uvence, mengatakan, “Sejak awal pandemi, praktisi dan ahli bedah di industri kosmetik telah melihat lonjakan permintaan pasien untuk perawatan.”

“Peningkatan minat ini berasal dari pasien yang sudah ada serta individu yang sebelumnya tidak pernah mempertimbangkan prosedur kosmetik sebelumnya,” lanjutnya.

“Dalam konsultasi dengan pasien, salah satu prioritas utama saya adalah memastikan bahwa mereka mencari pengobatan untuk alasan yang tepat,” tambahnya.

“Sangat mudah bagi kita untuk menjadi termakan oleh media sosial, apakah itu melalui filter atau dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, dan meluangkan waktu Anda untuk memutuskan apakah operasi yang tepat untuk Anda sangat penting,” ujar Olivier Amar lagi.

Studi ini dilakukan setelah Norwegia mengumumkan undang-undang yang akan melarang influencer memposting foto yang dimodifikasi tanpa menyatakan apa yang telah mereka lakukan.

Filter kecantikan

Filter kecantikan adalah alat pengeditan foto otomatis yang menggunakan kecerdasan buatan untuk mendeteksi fitur wajah dan menyesuaikannya dengan apa yang menurut pembuatnya ideal.

Mereka sangat populer dengan jutaan pengguna di Snapchat, Instagram, dan TikTok, tetapi mendapat kecaman karena dinilai merusak kepercayaan diri anak muda.

Penelitian oleh badan amal Girlguiding tahun lalu menemukan setengah dari anak perempuan berusia 11 hingga 16 tahun secara teratur menggunakan aplikasi atau filter untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik.

Influencer Faye Dickinson dari London, Inggris, meminta aplikasi medsos melarang penggunaan filter foto, atau memiliki batasan usia untuk di atas 18-an saja.

“Masalah dengan filter ini adalah, kalian melihat sisi diri kalian dengan filter, yang sesuai dengan standar kecantikan yang tidak wajar dan tidak manusiawi yang sekarang dapat diperoleh dengan filter. Itu adalah obsesi tidak sehat,” ujarnya.

Filter vs Reality. Foto: The Washington Mail
Filter vs Reality. Foto: The Washington Mail

Dickinson kemudian menciptakan filter Instagram populer ‘Filter vs Reality’ yang menggunakan efek layar terpisah untuk menunjukkan perbedaan antara foto yang diedit dan yang tidak diedit.

“Sangat mudah untuk merasa insecure, melihat betapa banyak konten yang kita konsumsi setiap hari difilter dan difoto, dan semua orang terlihat sempurna,” ujarnya.

“Jangan biarkan filter ini menipu Anda; Anda unik, cantik, kuat, dicintai, dan berharga tanpa filter apa pun,” pungkas Dickinson.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close