Trending

Janggal! Kenapa surat wasiat ZA dan pelaku bom Makassar isinya sama?

Polisi menemukan surat wasiat yang ditulis oleh ZA, pelaku penyerangan Mabes Polri, Rabu sore, 31 Maret 2021. Surat itu rupanya diidentifikasi mempunyai kemiripan dengan surat yang ditinggalkan pelaku bom bunuh diri di gereja katedral, Makassar.

Dalam kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, dan penyerangan di Mabes Polri, Kepolisian menemukan surat wasiat yang ditinggalkan dan diduga ditulis oleh para pelaku. Surat wasiat tersebut memiliki sejumlah kemiripan.

Apa saja kemiripan surat tersebut? Kemiripan pertama, surat wasiat sama-sama ditulis dengan tulisan tangan di secarik kertas. Kedua, polanya pun serupa, ditujukkan kepada orangtua masing-masing pelaku.

Ketiga, dari segi isi surat, baik pelaku bom bunuh diri di Makassar dan Mabes Polri juga meninggalkan pesan yang sama kepada keluarga mereka.

Kedua pelaku memulai surat wasiatnya dengan meminta maaf kepada keluarga atas keputusan yang mereka ambil. Keempat, mereka kemudian sama-sama berpesan kepada keluarga agar selalu beribadah dan tidak meninggalkan salat.

Pelaku juga meminta kedua orangtua mereka agar berhenti berhubungan dengan institusi perbankan, karena riba dan tidak diridhai.

“Tulisan surat wasiat yang di Makassar itu menggunakan kapital, yang di Mabes ini menggunakan huruf-huruf kecil. Akan tetapi dia memohon maaf kepada orangtuanya, lalu sebut ini pilihan terbaik, saya menghormati orangtua, menyayangi ibu dan bapak, tetapi Allah lebih sayang kepada hambanya,” kata Irfan Idris, Direktur Deradikalisasi BNPT, dikutip Apa Kabar Siang, Kamis 1 April 2021.

Teroris perempuan berjilbab serang Mabes Polri, Jakarta Selatan. Foto: Istimewa
Teroris perempuan berjilbab serang Mabes Polri, Jakarta Selatan. Foto: Istimewa

Pelaku kemudian juga menyampaikan banyak larangan-larangan yang disampaikan kepada ibunya. Salah satunya larangan untuk menggunakan kredit card, kemudian tidak berhubungan kepada bank, lalu bicara pemerintah yang thogut, dan insya allah mereka akan kembali bertemu di surga.

Kata Irfan, doktrin itulah yang membuat para pelaku penyerang gereja Katedral dan Mabes Polri kemudian makin mantap melakukan aksinya.

“Memang itu yang menapaki mengapa mereka dengan berani melakukan aksi tanpa rasa ragu dan takut, untuk melakukan penyerangan,” katanya.

Gereja dan Mabes cuma alasan

Lebih jauh, Irfan juga menyebut, para pencuci otak ketiga pelaku ini sepertinya memang sengaja menstigmakan pada mereka jika gereja dan Mabes Polri merupakan sasaran tepat untuk beraksi.

Di tempat itu pula lah mereka dianggap dapat dengan cepat untuk meninggal syahid dan cepat masuk surga. Maka itu, dalam surat wasiat mereka, tertulis jika mereka sudah sangat yakin betul bahwa apa yang dilakukannya sangatlah tepat.

“Jadi melakukan penyerangan di rumah ibadah, penyerangan di kantor Kepolisian itu hanya dijadikan alasan agar dia cepat meninggal, syahid, dan masuk surga. Lalu ketemu bidadari. Tapi enggak tahu lah bagaimana kalau perempuan, apa bidadara juga akan menunggunya?”

Foto dua terduga pelaku bom bunuh diri Makassar beredar. Foto: Instagram @makassar_iinfo
Foto dua terduga pelaku bom bunuh diri Makassar beredar. Foto: Instagram @makassar_iinfo

Narasi-narasi inilah yang menurutnya harus diluruskan lewat media, dan bukan memberikan panggung yang justru mengglorifikasi keberanian aksi-aksi mereka, dan justru akan memancing dan memicu semangat mereka kemudian.

“Yang pasti aksi di Mabes Polri ini terkait sekali dengan apa yang terjadi di Makassar,” katanya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close