Trending

Tak berakhlak! Ngaku bela Islam, ternyata ISIS jadikan Al-Quran sebagai bom peledak

Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) atau dalam bahasa Indonesia Negara Islam Irak dan Syam jadi salah satu kelompok miltan ekstrimis yang mengatasnamakan agama dalam setiap perjuangannya. Meski mengaku ingin mendirikan negara berdasarkan ajaran Islam, ternyata ISIS justru pernah jadikan kitab suci Al-Quran sebagai bom peledak.

Berdasarkan laporan Press TV pada beberapa tahun silam, Menteri Luar Negeri Irak, Ibrahim al-Jafari sempat membeberkan bahwa ISIS pernah melakukan perbuatan biadab, yakni menyembunyikan bom dan sejumlah bahan peledak lainnya di dalam Al-Quran.

Namun perilaku tidak terpuji itu malah seakan menjadi bumerang bagi pihak ISIS lantaran militer Irak justru mendapat pecutan motivasi untuk segera menghabisi kelompok radikal ekstrimis tersebut.

“Perbuatan biadab mereka hanya akan memberikan motivasi kepada tentara Irak untuk secara habis-habisan melawan mereka,” kata Al-Jafari, dikutip Hops pada Jumat, 19 Februari 2021.

Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post
Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post

Sebenarnya perilaku ISIS yang menggunakan media kitab suci Al-Quran sebagai media penyeludupan bom dan bahan peledak tersebut dilakukan karena mereka sudah putus asa.

Menteri Al-Jafari menjelaskan, setelah tentara Irak beberapa kali memukul mundur ISIS, terutama di kawasan Fallujah, ISIS kerap menggunakan taktik yang terbilang tidak masuk akal dan aneh.

Kekalahan tersebut membuat mereka putus asa dan menghalalhkan berbagai cara, salah satunya mengunakan taktik yang justru secara tidak langsung menghina agama Islam, yakni menggunakan Al-Quran sebagai tempat membunyikan bom serta berbagai bahan peledak lainnya.

Buat biaya perang, ISIS sampai jual narkoba

Ilustrasi kelompok militan ISIS. Foto: Antara
Ilustrasi kelompok militan ISIS. Foto: Antara

Pihak kepolisian Italia menduga, ISIS menjadi dalang dibalik beredarnya pil Captagon. Lantaran pihaknya sempat menyita tiga kapal Kontainer berisi muatan pil Captagon seberat 14 ton di Pelabuhan Selatan Salerno.

Bahkan pemerintah Italia mengungkapkan, penemuan penyeludupan obat terlarang senilai US$1,6 miliar ini menjadi operasi penyitaan amfetamin terbesar dalam sejarah.

Penyeludupan itu terkuak ketika kepolisian setempat menemukan sekitar 84 juta pil Captagon yang berada di dalam mesin dan tabung besar salah satu bagian kapal.

Dilansir dari Republika, pil Captagon atau yang biasa dikenal sebagai ‘Obat Jihad’ kerap digunakan kelompok militan Negara Islam (ISIS) ketika berperang. Penggunaan obat ini memiliki efek yang berbahaya namun dinilai baik ketika berperang dan terjadi baku tembak di medan perang.

Sejumlah pihak menilai kandungan kimia di dalamnya dapat memberikan efek penghambat rasa takut dan stimulisinya juga terbukti berguna selama berlangsungnya perang berkepanjangan di sejumlah konflik.

Dugaan pil Captagon diproduksi oleh kelompok jaringan ISIS diperkuat dengan sejumlah temuan di tempat-tempat persembunyian tentara ISIS. Termasuk adanya laporan dari sejumlah pihak yang menunjukkan bahwa Suriah menjadi tempat produksi besar pil tersebut.

Tak hanya menghilangkan rasa takut pada pasukan ISIS, obat jihad ini juga dijual ke sejumlah belahan dunia. Adapun dana hasil penjualan tersebut menjadi sumber pemasukan bagi kelompoknya untuk menggelontorkan dana dalam sejumlah agenda militannya, seperti membeli perlengkapan senjata, perbekalan perang, dan kegiatan lainnya.

Peredaran Pil Captagon

Salah satu dampak penggunaan pil Captagon yang terkenal akhir-akhir ini adalah peristiwa serangan teater Bataclan pada tahun 2015 yang menewaskan 90 orang di Kota Paris, Prancis. Teroris yang menembak secara brutal ke arah warga itu terbukti mengkonsumsi pil Captagon.

Diketahui, Pil Captagon merupakan sejenis amfetamin fenethylline hydrochloride. Bahan baku yang digunakan berbahan dasar obat sintesis Fenethyline yang diracik bersama kafein dan senyawa lainnya. Penggunaan awal dari pil ini adalah untuk mengobati penyakit-penyakit dengan gangguan seperti hiperaktif, narkolepsi, hingga depresi.

Penggunaan obat ini secara resmi dilarang oleh hampir seluruh negara sejak tahun 1980-an. Namun, obat versi tiruan ini dengan senyawa yang sama masih tetap beredar dan diproduksi di wiayah timur tengah.

Dalam laporan World Drug Report, Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), tujuan utama dari peredaran Captagon untuk saat ini ialah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Bahkan ditargetkan bisa masuk ke benua Afrika melalui Libya dan Sudan. 

loading...
Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close