Fit

Tak seperti RS, ternyata semua pasien covid-19 di Wisma Atlet lakukan ini

Sejak awal pandemi di Indonesia, Presiden Joko Widodo menjadikan Wisma Atlet di Kemayoran alih fungsi menjadi Rumah Sakit (RS) Darurat Covid-19. Meski demikian, ternyata menjalankan karantina juga pengobatan di sana tidak mirip rumah sakit.

Sebanyak 1.740 pasien Covid-19 yang dirawat inap di Wisma Atlet ternyata menjalankan karantina dengan sistem self service mirip rumah makan cepat saji.

Baca juga: Sekeluarga kena corona, wanita ini bagikan cerita 11 hari di Wisma Atlet

Rima (36) salah satu pasien covid-19 yang telah melewati 11 hari di Wisma Atlet membagikan pengalamannya menjalani pengobatan.

“Jadi di wisma atlet ini sistemnya semi mandiri. Obat dikasih sesuai kebutuhan masing-masing. Itu semua kita yang mabil nyamperin ke ruang poli setiap jam makan, bukana seoerti di RS yang susternya nyamperin kita,” ujar Rima diwawancarai Hops pada Selasa 15 September 2020.

Lebih lanjut, Rima mengungkapkan bahwa kondisi di Wisma Atlet tidak seburuk yang diceritakan orang-orang. menurutnya, kondisi tempat ia, suami dan anaknya dirawat cukup layak.

“Setiap pasien mendapatkan unit. Kondisi di unit kami nyaman. Wisma Atlet juga menyediakan fassilitas yang umum saja,” ujar Rima.

Kondisi kamar di Wisma Atlet
Kondisi kamar di Wisma Atlet Photo: Istimewa

Ia menjelaskan beberapa fasilitas umum yang ia terima di antaranya tempat tidur, selimut, bantal, lemari, handuk, sapu dan alat pel.

“Yang lainnya bawa sendiri. Saya di hari ke dua minta ke orangtua untuk dikirimkan segala ‘peralatan perang’ untuk bersih-bersih cuci baju, cuci piring dan cuci botol susu anak saya,” katanya.

Sementara itu untuk kondisi kebersihan di unit, adalah tanggung jawab masing-masing penghuni.

“Untuk kondidi kebersihan di unit pada saat kami sampai ya ‘so-so’ deh, jadilah suami saya nyapu satu unit.”

Rata-rata pasien memang diminta mandiri, karena kebanyakan pasien yang karantina di Wisma merupakan pasien yang bukan dengan kategori berat.

“Untuk kondisi fisik kita selama di sana, suami dan anak masih terlihat sehat dengan kondisi tanpa keluhan. Kalau saya (pasien komorbid), justru malah merasa in safe place and hand, setiap hari gsaya merasa berangsusr sehat.”

Untuk fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rima menjelaskan bahwa, kondisinya sangat tidak mirip rumah sakit, namun meski demikian, semua masih dalam standar prosedur yang memadai.

“IGD-nya bisa menampung 20 orang dan gak dempet-dempet walaupun tanpa sekat. Yang pasti cukup bersih dan dingin luar biasa. Sambil menunggu giliran EKG dan ambil darah, kami pasien diberi diberi makan siang dan snack.”

Karena ini adalah RS darurat jadi ada beberapa fasilitas darurat seperti EKG, misalnya. Fasilitas ukur denyut jantung ini terkesan hanya seadanya.

“Karena ruangan tanpa sekat, saya lakukan EKG hanya ditutupi standing banner.”

Rima juga menceritakan semua aktivitas yang dilakukan selama di Wisma Atlet.

“Setiap hari kami berjemur pagi dan olahraga ringan. Kita juga dikasih makan 3 kali sehari plus snack 1 kali. Tensi suhu, saturasi oksigen, dicek 3 kali sehari.
rekam jantung juga dipantau secara berkala.”

“Di sini semua orang positif dengan tingkat berbeda-beda, jadi harus tetap pakai masker dan jaga jarak,” tambahnya.

Kondisi kamar di Wisma Atlet Photo: Istimewa
Kondisi kamar di Wisma Atlet Photo: Istimewa

Proses masuk wisma atlet juga tak ada hambatan

Tak butuh birokrasi berbelit, ternyata masuk Wisma Atlet cukup mudah.

“Sebelum berangkat ke Wisma Atlet kita dihubungi via telepon untuk memastikan bisa langsung datang ke sana dengan surat-surat yang kami bawa,” katanya.

Kala itu, Rima diminta membawa KTP, fotokopi Kartu Keluarga, hasil cetak swab, surat rujukan RS yang merilis PCR, hingga dokumen rujukan dari puskesmas domisili.

Bahkan Rima menceritakan dirinya tidak membawa salah satu surat yang diminta, namun ketika masuk regstrasi, semua dipermudah.

“Sampai di wisma, di luar dugaan malah registrasi berjalaan lancar tanpa ada yang mempermasalahkan dokumen yang kurang. Surat-surat yang kami bawa cukup untuk kami bisa di rawat atau tepatnya di isolasi semi mandiri di sana.”

Baca juga: Viral beredar video ambulans antre di RSD Wisma Atlet, ini penjelasannya

Setelah melewati registrasi dokumen, ia dipanggil masuk IGD. “Kita dikasih bed masing-masing berdampingan.”

Meski proses registrasi dan scresning awal dinilai Rima cukup melelahkan. Namun ia merasa lega.

“Kami tiba di wisma pukul 10.00 dan baru bisa masuk kamar pukul 17.00. Urutan proses yang dilewati sampai masuk kamar registrasi dokumen, yaitu masuk IGD diberi makan siang, snack, ambil darah, rekam jantung, cek gula darah, hingga rontgent thorax.”

Selain obat, Rima mengaku seluruh biaya perawatan yang ia jalani di sana gratis.

“Kami di Wisma Atlet ditanggung Pemerintah alias gratis. Kami bersyukur dan berterima kasih tak terhingga kepada Pemerintah juga kepada seluruh petugas medis yang tak kenal lelah menjalankan tugas walaupun berbahaya,” tutupnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close