Trending

Tak serius cari pembunuh Tuti-Amel, polisi butuh tambahan biaya?

Pemeriksaan kasus pembunuhan Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu di Subang, Jawa Barat telah memasuki hari ke-32 atau lebih dari sebulan, namun pelakunya masih belum ditemukan. Lantas, mengapa gerangan?

Pakar hukum Yesmil Anwar mengatakan, kasus tersebut bisa dijadikan tolak ukur masyarakat dalam menilai kemampuan kepolisian dalam menyelesaikan kasus berat. Jika berhasil, mereka terbukti hebat. Namun jika tidak, kapasitas mereka sebagai petugas negara patut dipertanyakan.

Saat ini, proses penyelidikan kasus memang terbilang lambat dan bertele-tele. Bahkan, Yesmil sampai bertanya-tanya, mungkinkah hal tersebut dipicu dari kurangnya anggaran yang dimiliki polisi?

“Ini kelihatan tidak meratanya profesionalitas penyidik di lapangan, atau mungkin dana operasionalnya terlalu kecil untuk mengurus ini?” ujar Yesmil, dikutip Senin 20 September 2021.

Lokasi depan rumah Tuti dan Amalia, korban pembunuhan dalam Alphard di Subang. Foto: Istimewa
Lokasi depan rumah Tuti dan Amalia, korban pembunuhan dalam Alphard di Subang. Foto: Istimewa

Kasus tersebut, menurutnya, merupakan ujian berat profesionalitas di Subang. Sebab, akibat terlalu lama mengungkapnya, kini kasus tersebut sudah menjadi bola liar.

“Pusat turun tangan, betul juga. Karena yang dicari tidak hanya dari kesaksian, tapi yang dicari kebenaran formil yang benar-benar terjadi,” terangnya.

Lebih jauh, Yesmil menambahkan, sejauh ini ada sejumlah dugaan mengenai motif pelaku membunuh Tuti-Amel di Subang, misalnya asmara, harta, atau konflik internal lainnya.

Kini, kata dia, polisi sudah kehabisan banyak waktu untuk memecahkan kasus tersebut. Sehingga, ada beberapa pemeriksaan yang skemanya mesti diperbaiki.

“Kenapa anaknya dibunuh? Forensiknya sangat penting. Lalu dicek kondisi mobilnya, apakah bensinya penuh? Kalau mobilnya dipasangi GPS, bisa ketahuan mobil itu ke mana saja,” tegasnya.

Yosef beri kesaksian pada Kapolres. Foto: Ist.
Yosef beri kesaksian pada Kapolres. Foto: Ist.

Yesmil juga menyarankan pemeriksaan saksi disisir mulai dari lingkaran pertama keluarga korban hingga ke masalah pribadi korban.

“Ini kurang fair ketika yang diperiksa bapaknya (Yosef) terus. Diperiksalah sesuai KUHAP. Lebih diperlihatkan kepada masyarakat prosesnya karena masyarakat menginginkan adanya keadilan,” kata Yesmil.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close