Trending

Tak setuju istilah new normal, Wagub Jateng: rakyat saja tak mengerti

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengaku tak mengerti dan keberatan dengan penggunaan istilah new normal yang diterapkan kepada masyarakat. Bahkan wakil Ganjar Pranowo ini menyebut rakyat saja tidak mengerti new normal.

Meski secara harfiah dirinya mengaku mengartikan istilah new normal menjalankan kembali aktivitas di tengah pandemi covid-19. Namun dengan penggunaan kata new normal sendiri bisa membingungkan masyarakat yang akan memulai kehidupan normal.  

“Kita sepakati jangan new normal. Masyarakat nanya jangan pakai new normal. Wong masyarakat enggak paham. (Ganti dengan) budaya baru,” kata Gus Yasin, di Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 5 Juni 2020.

Gus Yasin bersama KH Maimoen Zubaik Foto: Antara

Meski menolak penggunaan kata new normal, Gus Yasin memiliki solusi penggunaan kata sebagai penggantinya yang sesuai dengan adat ketimuran orang Indonesia. Salah satunya yakni kata new normal bisa menggunakan kalimat budaya baru.

Kalimat budaya baru, merupakan terapan yang bisa dipahami masyarakat, dengan kebiasaan memakai masker setiap keluar rumah, jaga jarak anntara sesama dan rajin cuci tangan sebagai penanggulangan tertularnya virus corona.

Baca juga: Demonya rusak AS, donasi pemakaman George Floyd capai ratusan miliar

“Nanti kita himbau (pesantren) fasilitasi hand sanitizer, air mengalir, dan tetap pakai masker. Tentu mereka ikut arahan Pusat untuk menuju budaya baru,” ungkap Gus Yasin.

Istilah budaya baru sendiri diungkap Gus Yasin dihadapan para santri yang ingin menjalankan aktifitas ngajinya kembali. Budaya baru sendiri harus diterapkan di lingkungan santri dan di tengah masyarakat saat ini.

Social distancing di Jakarta
Social distancing di Jakarta. Foto Instagram @emporiumpluitmall

New Normal banyak penolakan

Tak hanya Wagub Jateng, penolakan new normal juga diungkap Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang menilai penerapan tananan baru kehidupan atau new normal tidak tepat bagi masyarakat di Indonesia.

Presiden KSPI Said Iqbal mengungkapkan, setidaknya ada lima poin yang menjadi dasar kalau New Normal tidak tepat untuk diterapkan. Poin pertama, jumlah kasus Covid-19 di tanah air yang masih meningkat tiap harinya.

Hal tersebut bertentangan dengan kriteria penerapan New Normal yakni kurva kasus Covid-19 yang harus sudah dinyatakan landai atau terkendali.

“Bahkan pertambahan orang yang positif, setiap hari jumlahnya masih mencapai ratusan,” kata Said dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip suara beberapa waktu lalu.

Poin kedua, nasib kesehatan buruh di tengah pandemi Covid-19. Sejumlah buruh yang tetap bekerja pada akhirnya terpapar virus tersebut seperti dialami oleh buruh di PT Denso Indonesia dan PT Yamaha Music. Begitu pula yang terjadi di pabrik Sampoerna dan PEMI Tangerang di mana ada buruh yang positif Covid-19, masuk kategori ODP dan PDP.

Kemudian, fakta ketiga terkait kondisi pabrik. Dia mengemukakan, sudah banyak pabrik yang merumahkan atau melakukan PHK akibat bahan baku material impor yang makin menipis bahkan nyaris nihil. Menurutnya, akan percuma apabila New Normal diberlakukan lantaran pabrik pun mengalami kekosongan bahan baku.

Salat jumat mulai aktif di masjid
MUI perbolehkan salat jumat di masjid Foto: Antara

poin keempat terkait PHK besar-besaran yang dirasakan buruh. Kehilangan pekerjaan dianggapnya bukan membutuhkan New Normal. Justru menurutnya yang dibutuhkan buruh ialah solusi agar mereka bisa tetap bekerja.

poin kelima yang pada kenyataannya banyak perusahaan masih meminta buruhnya untuk tetap bekerja meski tidak diberlakukan New Normal. Dengan begitu, jelas Said, yang dibutuhkan buruh dan pengusaha bukan New Nomal. Tetapi, regulasi dan strategi untuk memastikan bahan baku impor bisa masuk dan selalu tersedia di industri.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close