Trending

Target menteri meleset, inikah sumber kemarahan Jokowi

Tercatat dua kali Presiden Jokowi diketahui marah kepada para pembantunya di kabinet, kinerja yang tidak maksimal dinilai sebagai target kinerja yang meleset ditunjukkan para menteri di kabinet kerja. Kondisi itulah yang membuat Jokowi marah dalam setiap rapat dengan para menterinya.

Kemarahan pertama, Jokowi mempertanyakan penyerapan anggaran yang telah diberikan negara kepada kementerian, kali itu Menkes yang dipertanyakan terkait kinerja penyerapan anggaran yang masih kecil.

Kemarahan kedua Jokowi, kemudian ditunjukkan kepada kementerian yang memiliki anggaran paling besar. Kala itu Kementerian Pertahanan yang justru tidak dikritisi soal penyerapan anggarannya, namun diminta untuk mendukung kebutuhan belanja alutsista yang berasal dari luar negeri di stop dan dialihkan ke produk dalam negeri.

Menteri kabinet Jokowi. Foto: Suara.
Menteri kabinet Jokowi. Foto: Suara.

Jokowi meminta agar seluruh menterinya membelanjakan anggarannya secara cepat, agar terjadi perputaran uang di dalam negeri untuk membantu pertumbuhan ekonomi pasca pandemi secara cepat.

Dari sisi lain, kinerja menteri yang menjadi perhatian Jokowi, dinilai Politisi PPP Achmad Baidowi sebagai dampak dari kebijakan work from home yang tidak memiliki standar yang terukur. Kondisi itu membuat kinerja menteri terbengkalai yang membuat laporan kinerja kementerian merosot.

Baca juga: Kritik berani Dono Warkop soal polisi ‘berperut gendut’ di era Orba, salut!

“Kalau boleh menilai memang WFH itu standarnya tidak terukur, namanya saja WFH pasti banyak yang terbengkalai. Paling tidak, dalam WFH skala prioritas diutamakan. Kaitan dengan  itu, maka sejumlah target banyak yang meleset sehingga muncullah kekecewaan dari presiden,” ujar Awiek -sapaan akrabnya seperti dilansir dari RMOL.  

Suasana pertemuan Presiden Jokowi bersama sejumlah Purnawirawan TNI-POLRI. Foto: Setkab.go.id
Suasana pertemuan Presiden Jokowi bersama sejumlah Purnawirawan TNI-POLRI. Foto: Setkab.go.id

Melesetnya target yang telah ditentukan, membuktikan kinerja yang tidak maksimal dimana beberapa kementerian diketahui tidak memiliki skala prioritas dalam kinerjanya sehingga berdampak pada kinerja yang dipantau langsung oleh presiden.

“Sebabnya, WFH seperti tidak berdampak pada kebijakan di tengah pandemik Covid-19. Maka bahasa seperti cuti harus disampaikan presiden,” imbuhnya.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi)
Presiden Joko Widodo. Foto: Sekretariat Presiden via Antara

Dia menambahkan bahwa kemarahan presiden seharusnya menjadi pecutan bagi para menterinya untuk bekerja lebih cepat dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional. “Kemarahan presiden harus dimaknai sebagai pelecut semangat bagi para menteri untuk bekerja lebih maksimal dan mengambil terobosan luar biasa,” tandasnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close