Trending

Teori depresi pada bunuh diri editor Metro TV

Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyimpulkan editor Metro TV Yodi Prabowo meninggal karena bunuh diri. Polisi mengaitkan insiden ini dengan teori depresi yang mungkin dialami oleh almarhum.

Kenapa bisa polisi mendasarkan kesimpulan Yodi meninggal karena bunuh diri. Polisi menyimpulkan dari bukti-bukti, pemeriksaan riwayat dan dokumen korban serta keterangan dari ahli sampai saksi, korban kemungkinan besar mengalami depresi atas masalah kehidupannya.

Muslima Fest

Baca juga: Kenapa editor Metro TV bunuh diri? Bukti pisau sampai obat amfetamin kuncinya

Teori depresi editor Metro TV

Editor Metro TV Yodi Prabowo yang tewas dibunuh. Foto: Youtube.
Polisi singgung teori depresi editor Metro TV Yodi Prabowo. Foto: Youtube.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Tubagus Ade Hidayat mengungkapkan teori depresi atas kematian Yodi sehingga korban bunuh diri.

Dia mengatakan, dari analisis pemeriksaan 34 saksi, polisi menemukan Yodi mengalami konflik hubungan lawan jenis. Yodi berpacaran dengan S, namun punya teman dekat dengan inisial L. Konflik segitiga itu sudah bisa diselesaikan.

“Latar belakang korban bagaimana? Apa terpicu depresi karena orang lain. Kita dalami,” ujar Ade.

Dalam pendalaman penyidik, ada pernyataan menonjol dari korban ke pacarnya, S. Jadi setelah menyelesaikan konflik, korban curhat ke S.

“Korban sampaikan, kalau saya tak ada bagaimana? Kata ‘tak ada’ kami tafsiran arahnya soal meninggal. Itu disampaikan berulang-ulang ke S,” kata Komisaris Besar Polisi Tubagus Ade Hidayat.

Soal teori depresi korban, polisi tak menemukan adanya ancaman dari orang lain di hanphone atau WhatsApp korban. Analisis transaksi di kedua kartu debit korban juga tak memunculkan hal mencurigakan.

Riwayat ke rumah sakit

Namun demikian, polisi menemukan, sebelum meninggal korban sempat periksa ke RSCM Jakarta Pusat.

Terungkap korban datang ke RSCM untuk periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin.

“Korban ingin pengecekan apakah positif atau tidaknya HIV. Hasilnya sampai meninggal belum diambil,” ujar Komisaris Besar Polisi Tubagus Ade Hidayat.

Menurutnya, pemeriksaan soal HIV itu bisa kemudian mengarahkan ke tindakan bunuh diri.

“Ini sangat terkait bunuh diri, kaitannya dengan depresi. Bisa dijelaskan psikologi forensik,” ujar Komisaris Besar Polisi Tubagus Ade Hidayat.

Amfetamin dorong berani bertindak

Polisi memeriksa urine korban dan menemukan positif amfetamin. Obat ini pengaruhnya pada kejiwaan yaitu meningkatnya keberanian yang sedemikian luar biasa.

Pengaruh akibat minum obat ini yaitu munculnya keberanian tindakan menurut standar orang normal. Temuan ini dikaitkan dengan korban akhirnya berani mengambil langkah bunuh diri.

“Jangan bandingkan orang normal dengan tak normal, maka diukur pengaruh amfetamin itu pada keberanian tindakan yang menurut orang normal tak mungkin dilakukan,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya itu.

Bunuh diri di lokasi terpencil

Sebilah pisau yang ditemukan di lokasi tewasnya editor Metro TV, Yodi Prabowo di pinggir tol JORR Pesanggarahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2020). Foto: Suara.com
Sebilah pisau yang ditemukan di lokasi tewasnya editor Metro TV, Yodi Prabowo di pinggir tol JORR Pesanggarahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2020). Foto: Suara.com

Analisis kepolisian berdasarkan keterangan ahli dan data di lapangan, orang bunuh diri akan berupaya menyembunyikan dari ketahuan dari orang lain.

“Seorang tak ingin dianggap bunuh diri, banyak yang menutup diri. kalau di tempat ramai pasti dicegah. Bisa jadi ini bukan pasti. Orang lain tak ingin diketahui. Apalagi rute yang ia biasa lalui dan dikuasai. Rute dilalui tiap hari,” jelasnya Komisaris Besar Polisi Tubagus Ade Hidayat.

Ibu korban kecewa teori bunuh diri

Sehari sebelum kesimpulan Polda Metro Jaya, Ibu editor Metro TV kecewa soal kabar anaknya tewas karena bunuh diri.

Dua pekan sudah penyidikan kematian Yodi Prabowo berjalan. Beberapa kendala seperti buramnya rekaman CCTV hingga keterangan beberapa saksi yang diduga bohong menyulitkan proses penyidikan. Info terakhir, editor Metro TV tersebut diduga tewas akibat bunuh diri.

“Kesel banget saya kalau ada yang bilang bunuh diri. Keenakan yang bunuh nanti,” kata ibu Yodi, Turinah saat ditemui di rumahnya, Kamis 23 Juli 2020, dikutip dari Kompas.com.

Ibu editor Metro Tv itu meyakini, anaknya tidak bunuh diri. “Saya juga kesel jadinya dibilang bunuh diri. Cuma gara-gara ada sidik jarinya di pisau. Masa bunuh diri tusukannya banyak gitu,” ujarnya.

Turinah meminta sidik jari di pisau tidak dijadikan alasan penyebab kematian Yodi karena bunuh diri. “Saya gregetan dengan indikasi bunuh diri. Jangan mentang-mentang ada sidik jari di pisau,” ujarnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close