Trending

Cerita teriakan Nyi Mas Melati yang rontokkan nyali pasukan Belanda

Kisah pendekar wanita asal Betawi ternyata begitu banyak. Selain Mpok Ris, ada juga Nyi Mas Melati yang sama populernya. Sama seperti Mpok Ris, wanita tangguh ini juga berasa dari Tangerang.

Nyi Mas Melati merupakan salah satu pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dari pejajah Belanda.Tak hanya itu saja, dia juga memiliki peranan yang cukup besar dalam menyebarkan agama Islam di Tangerang.

Baca juga: Sujud cium kaki, diseret dan dibohongi petugas Covid-19, Perjuangan keluarga Andi di Makassar

Kisah Nyi Mas sendiri nyaris tak tercatat dalam sebaran buku sejarah. Namun keberaniannya melawan Belanda menjadi cerita turun temurun yang banyak diceritakan oleh warga setempat. Apalagi di daerah Balaraja, terdapat makamnya, tepatnya di Desa Bunar, Kecamatan Sukamulya, Balaraja, Kabupaten Tangerang.

Namun, sebenarnya, makam Nyi Mas sendiri tersebar di banyak tempat. Karena saat dia meninggal, Belanda memotong-motong tubuh Nyi Mas dan potongan tubuhnya dikubur secara terpisah. Selain di Balaraja, bagian tubuh Nyi Mas yang lain dimakamkan di di Pulau Panjang, Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu di kawasan Danau Situ Gintung Ciputat yang dibangun oleh Belanda pada 1933.

Lalu siapakah dia? Disebutkan bahwa Nyi Mas Melati adalah puteri dari Raden Kabal yang masih sedarah dengan Sultan Hasanudin Banten ke-18 dan ditugaskan untuk menyebarkan Dakwah agama Islam ke berbagai daerah seperti Sumatera, Jawa dan Tanah Sunda. Dia menjadi pahlawan bagi warga Tangerang yang mengalami perbudakan dan penindasan dari antek-antek Belanda.

Mural Nyi Mas Melati pada Tangerang Street Art Festival 2017. Foto: Cemprut
Mural Nyi Mas Melati pada Tangerang Street Art Festival 2017. Foto: Cemprut

Ketika itu di tahun 1921-1930, beberapa sumber menyebutkan ada tiga bagian tanah partikelir, yakni sebutan tanah dalam tanam paksa milik Tuan Tanah yang dikelola Belanda. Tiga bagian itu adalah Distrik Blaradja, Distrik Tangerang, dan Distrik Maoek.

Di Distrik Balaradja, seperti Balaradja, Boeniajoe, Tigaraksa, Tjikoeja, Karangserang, Pasilian, Djenggati, Tjakoeng.

Adapun di Distrik Tangerang, di antaranya Tjikokol, Panunggangan, Pondok Djagoeng, Paroengkoeda, Batoe Tjeper, dan Tanah Kodja.

Sedangkan di Distrik Maoek, antara lain Kramat Pakoeadji, Sepatan, Teloeknaga, Ketapang Maoek, Rawakidang, Kampoeng Malajoe, Pekadjangan, Tegalangoes, Bodjong Renget, dan Ketos.

Akibat tanam paksa itu terjadi perbudakan dan penindasan menyebabkan kesengsaraan hebat bagi warga kecil. Rakyat sudah tak tahan, akhirnya melakukan pemberontakan dan penghadangan di daerah-daerah bagian di Tangerang. Rakyat dipimpin oleh Raden Kabal dan Nyi Mas Melati.

Dikisahkan dalam legenda turun-temurun oleh orang Betawi Tangerang, Nyi Mas Melati tak pernah gentar sedikitpun. Dengan ilmu beladirinya yang cukup tinggi, dia hadapi Belanda. Beberapa Tuan Tanah dibuat ciut nyalinya, bahkan sampai mengalami kerugian cukup banyak. Berbagai perlawanan yang dilakukan Nyi Mas Melati membuatnya dijuluki sebagai Singa Betina.

Saat bentrokan terjadi dengan pasukan Belanda di daerah perbatasan Balaraja, Nyi Mas langsung memimpin rakyat melakukan perlawanan. Sambil mengacungkan keris, dia berteriak lantang, “Serang…!”

Begitu terdengar suara teriakan Nyi Mas yang menggelegar bak Singa Betina dalam menyemangati pasukannya, pasukan Kompeni yang dibantu Cina pro Kompeni langsung ciut nyalinya. Tentara Belanda itu langsung angkat kaki, dan lari kocar-kacir. Konon, kabarnya teriakan itu juga membuat burung-burung beterbangan ke udara.

Namun sekuat-kuatnya orang, ada saatnya juga mengalami kekalahan. Begitulah dengan Nyi Mas, hingga suatu ketika dia gugur dalam peperangan. Melihat Nyi Mas tersungkur jatuh, pasukan Belanda tak menyia-siakan kesempatan itu. Tubuh Nyi Mas mereka raup, tanpa ampun dihujani senjata. Lalu tubuhnya dipotong-potong menjadi beberapa bagian.

Ilustrasi Nyi Mas Melati. Foto: MerahPutih.com
Ilustrasi Nyi Mas Melati. Foto: MerahPutih.com

Ketua Pengelola makam, Ustad Arif, seperti dikutip dari katakota, makam Nyi Mas di Balaraja, selalu dikunjungi orang untuk mengenang perjuangannya. Bahkan, tak sedikit yang mengeramatkannya. Setiap bulan silih mulud setiap tahunnya, selalu diadakan acara haul atas kepergiannya.

Untuk menghormati perjuangannya, Pemerintah Kota Tangerang mengabadikan namanya. Di antaranya pada Gedung Wanita Nyi Mas Melati di kawasan Jalan Daan Mogot Kota Tangerang dan menjadi nama sebuah jalan yaitu Jalan Nyi Mas Melati di Kota Tangerang. Sementara, warg sekitar danau Situ Gintung, kerap melihat penampakan Nyimas Melati yang dianggap sebagai penunggu Situ Gintung. (Dehan)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close