Trending

Ternyata PDIP lagi mata-matai Demokrat, buktinya bikin kalang kabut

Akademisi sekaligus pengamat politik, Rocky Gerung mengungkapkan bahwa diam-diam PDIP memantau perkembangan Partai Demokrat belakangan ini.

Hal itu dibuktikan dengan dibuatnya beasiswa akademik dari PDIP bagi mereka yang mau mengkaji dan membandingkan kinerja dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto: Antara
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto: Antara

Rocky Gerung menilai, secara psikologis sebenarnya PDIP saat ini sedang panik lantaran lawan politiknya, yakni Partai Demokrat beserta Ketua Umumnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sedang meroket elektabilitasnya.

Terkait hal tersebut, kata Rocky Gerung, PDIP juga membuat survei internal untuk mendeteksi perkembangan suara dari Demokrat.

“Psikiloginya pasti ada survei internal PDIP yang menemukan bahwa suara partai Demokrat panik karena itu dia panik sendiri. Kalau dia enggak tahu Demokrat dan AHY lagi naik suaranya, maka tentu dia tidak berupaya menurunkan elektabilitas,” ujar Rocky Gerung dalam saluran YouTube miliknya, dikutip Hops.id pada Kamis, 28 Oktober 2021.

Lambang Partai Demokrat dan PDIP. Foto: Wikipedia
Foto: Wikipedia

Terlebih sejauh ini banyak sekali pihak yang mencoba untuk menjatuhkan elektabilitas Demokrat, salah satunya sebagaimana yang dilakukan oleh Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko.

Menurut Rocky Gerung, berbagai usaha yang dilakukan itu membuktikan bahwa elektabilitas Demokrat semakin meningkat.

Elektabilitas dan suara meningkat inilah yang dianggap PDIP sebagai ancaman.

“Apalagi Pak Moeldoko enggak berhasil menurukan elektabilitas Demokrat, jadi psikologinya bisa kita lihat, namanya psikologi terbaik, orang yang ngotot untuk mempersoalkan sesuatu itu artinya bahwa sesuatu itu sedang baik kan,” imbuh Rocky Gerung.

PDIP bikin beasiswa bandingkan Jokowi dan SBY

Sebagaimana diketahui, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengatakan bahwa jumlah orang yang mendaftarkan diri untuk menerima beasiswa kajian akademis perbandingan kinerja antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah mencapai 53 orang.

Menurutnya, sebagian besar pendaftar sedang mengambil program studi S2 dan S3 di sejumlah perguruan tinggi ternama, baik di dalam dan luar negeri.

“Peminatnya sangat banyak, mencapai 53 orang. Sebagian besar mengambil program S2 dan S3 dan berasal dari kalangan perguruan tinggi ternama. Ada dari Universitas Indonesia, UGM, Universitas Airlangga, UIN Banda Aceh, hingga dari Oslo University, Manila University, Universiti Sains Malaysia,” kata Hasto dalam keterangannya, Senin (25/10).

Ia menerangkan beasiswa yang ditawarkan untuk kajian akademis perbandingan kinerja antara Jokowi dan Presiden SBY mencakup ilmu pemerintahan, politik, kebijakan publik, kepemimpinan, psikologi, manajemen, hingga kelembagaan organisasi pemerintahan.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close