Fit

Tim vaksin buatan Terawan didominasi asing, BPOM kesal: Dokter RS Kariadi cuma nonton

BPOM kesal tim Vaksin Nusantara buatan Terawan didominasi asing.

Polemik Vaksin Nusantara (Vaknus) yang diprakarsai oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto kembali menuai polemik.

Pasalnya penelitian vaksin nusantara yang dilakukan bersama RSUP Kariadi Semarang dan Universitas Diponegoro dihentikan sementara.

Dalam surat yang beredar, penghentian sementara itu karena tim peneliti untuk melengkapi dokumen Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengizinkan uji klinis tahap kedua. Namun BPOM tak juga keluarkan izin tersebut.

Terkait hal itu, rupanya BPOM membongkar ada keanehan di penelitian yang dilakukan oleh tim Vaknus.

Pasalnya, Kepala BPOM Penny Lukito mengungkap bahwa tim peneliti untuk Vaknus didominasi oleh peneliti asing.

Penny mengungkap hasil uji klinik fase I vaskin Nusantara didominasi oleh peneliti asing.

Menkes Terawan
Menkes Terawan Photo: Instagram Kemenkes.

“Di dalam pembahasannya tim peneliti asinglah yang menjelaskan, yang membela dan berdiskusi, yang memproses pada saat kita hearing tersebut, dan terbukti proses pelaksanaan uji klinik proses produknya dilakukan oleh tim peneliti asing dari AVITA,” kata Penny dalam rapat kerja Komisi IX secara virtual, dilansir dari laman Suara, Kamis 8 Maret 2021.

Peneliti asing itu disebut Penny berasal dari perusahaan asal Amerika Serikat, AVITA Biomedical. Sementara, tim peneliti dari RSUP dr. Kariadi tidak turut andil dalam uji klinik fase I tersebut.

“Memang ada training para dokter di RS Kariadi tersebut, tapi mereka cuma menonton, tidak melakukan langsung,” ujarnya.

Tak cuma itu, Penny juga mengatakan, pembuatan Vaksin Nusantara menggunakan komponen impor yang harganya mahal.

Di sisi lain konsep vaksin dari sel dendritik ini tidak memenuhi good manufacturing practice karena dilakukan di tempat terbuka.

Ilustrasi botol vaksin Covid-19. Foto: WFAA-TV
Ilustrasi botol vaksin Covid-19. Foto: WFAA-TV

Padahal, vaksin Covid-19 harus steril dengan konsep tertutup karena akan disuntikkan ke tubuh manusia.

“Artinya harus ada validasi yang membuktikan produk tersebut sebelum dimasukkan lagi ke subjek, itu steril dan tidak terkontaminasi itu yang ada beberapa tahapan yang tidak dipenuhi,” ucapnya.

Penny melanjutkan, tim peneliti vaksin Nusantara ini tak mampu menjelaskan konsep vaksin Nusantara, apakah seperti terapi atau pelaksanaan vaksinasi pada umumnya.

“Konsepnya sendiri belum valid, data-datanya juga masih belum lengkap untuk bisa menjelaskan konsep dari vaksin yang disebut dengan vaksin nusantara ini,” pungkasnya.

Berdasarkan hal tersebut, BPOM belum mengeluarkan izin Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close