Trending

Tinggalkan SBY demi jabatan dari Jokowi? Ferdinand Hutahaean jawab begini

Kepala Biro Energi dan Sumber Daya Mineral DPP Partai Demokrat periode 2020-2025 Ferdinand Hutahaean memutuskan untuk pamit mengundurkan diri dari partai tersebut. Hal itu dia sampaikan secara resmi kepada media, pada Minggu 11 Oktober 2020.

Menurut Ferdinand Hutahaean, ada sejumlah alasan mengapa dia memilih meninggalkan Partai Demokrat yang dikomandani Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kata Ferdinand, dia sudah tidak sejalan dengan garis partai berlogo Mercy tersebut.

Baca juga: FPI dan PA 212 instruksi demo serentak UU Ciptaker Selasa: Target Istana

“Hari ini saya, Ferdinand Hutahaean sebagai Kepala Biro Energi dan Sumber Daya Mineral DPP Partai Demokrat periode 2020-2025 telah mengumumkan secara resmi pengunduran diri saya dari kepengurusan Partai Demokrat, dan sekaligus pengunduran diri saya sebagai kader Partai Demokrat,” kata dia dalam sebuah video, disitat Minggu 11 Oktober 2020.

Kata Ferdinand, Senin besok dia akan mengantarkan surat pengunduran dirinya ke Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, sekaligus menyerahkan kartu tanda anggota yang dia miliki.

Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah acara PWI. Foto Twitter @SBYudhoyono

Adapun alasan yang dimaksud adalah perbedaan prinsip antara dirinya dengan pengurus-pengurus di Partai Demokrat, terkait sejumlah hal. Dan terbaru adalah disahkannya Undang-undang Cipta Kerja.

“Ada perbedaan-perbedaan prinsip secara mendasar, dan ini adalah puncak dari beberapa perbedaan yang kemarin terkait dengan UU Cipta Kerja, saya sangat berbeda prinsip dan pemahaman, antara kepentingan UU ini dengan kepentingan politik. Sehingga saya mengambil sikap untuk mengundurkan diri secara resmi dari DPP Partai Demokrat.”

Pada kesempatan itu, dia pun mengucapkan rasa terima kasihnya pada SBY sebagai guru politiknya selama ini, termasuk semua kader Demokrat di Tanah Air. Dia mendoakan agar ke depan Partai Demokrat bisa lebih baik, semakin berjaya, dan tetap eksis di kancah politik nasional Indonesia.

“Itu harapan saya, dan silaturahmi antara saya dan dengan seluruh kader Partai Demokrat seluruh Indonesia, saya harap tetap terjaga,” kata Ferdinand lagi.

Demokrat: Kami hargai

Sementara itu, terkait pengunduran diri Ferdinand Hutahaean, pengurus Partai Demokrat pun angkat suara.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Komunikasi Strategid Partai Demokrat Ossy Dermawan kepada wartawan. Kata Ossy, partai sangat menghargai keputusan Ferdinand Hutahaean tersebut.

“Tentunya kami memberikan ruang kebebasan dan mempersilakan yang bersangkutan untuk mundur,” kata dia.

Sementara terkait surat pengunduran diri Ferdinand, Ossy mengatakan mantan rekan separtainya itu baru akan menyampaikannya besok. Namun, kata dia, Ferdinand sudah secara terbuka mengumumkan mundur dari Partai Demokrat.

“Ferdinand Hutahaean akan mengirimkan surat pengunduran dirinya besok. Namun yang bersangkutan sudah memberikan statement terbuka untuk mundur dari Partai Demokrat di ruang publik,” ujarnya.

Secara pribadi, Ossy pun menyampaikan terima kasih atas pengabdian Ferdinand selama ini. “Secara pribadi, saya sampaikan ucapan terima kasih atas pengabdian beliau selama ini dan semoga sukses dalam pengabdian yang baru di luar Partai Demokrat demi kebaikan nusa dan bangsa,” kata Ossy.

Bantah jilati Jokowi

Sementara itu Ferdinand Hutahaean sendiri belakangan dituding sebagai penjilat sebelum memutuskan keluar dari Partai Demokrat. Hal itu banyak disuarakan netizen di dunia maya, khususnya Twitter.

Ferdinand bahkan sampai mesti menanggapi banyaknya tudingan yang dialamatkan kepada dirinya itu.

“Penjilat? Hahaha sy harus tertawakan tuduhan itu kpd sy. Apa yg mau sy jilat? Siapa yg mau sy jilat? Jokowi?”

Presiden Joko Widodo
PresidenJoko Widodo. Photo: Instagram

“Ahhh dr dulu kalau sy punya mental penjilat, tak akan sy tinggalkan Jokowi krn beda prinsip ttg Subsidi dan Pembangunan. Kalau sy penjilat sdh jd pejabat saya dr dulu.”

Menurut Ferdinand, disitat Kompas TV, sejak 2012 lalu kemunculan Joko Widodo, dirinya sudah aktif mendorong PDI Perjuangan menyalonkan wali kota Solo itu sebagai presiden. Hingga akhirnya Joko Widodo atau Jokowi menjadi Presiden RI pada 2014.

Tapi, kata Ferdinand, dia pernah tidak sejalan dengan kebijakan Presiden Jokowi. Salah satunya soal subsidi dan pembangunan infrastruktur. Menurutnya, secara prinsip dia berseberangan, dan Ferdinand memilih pergi.

“Kenapa pergi? Karena ini soal prinsip dan yang berani pergi bukan penjilat,” tulis Ferdinand.

Jadi menurutnya, kalau ada yang menuduhnya penjilat dan menjilat untuk dapat jabatan sekarang, Ferdinand hanya tertawa saja.

“Saya harus tertawakan dia, karena dia tak kenal dengan Ferdinand Hutahaean,” ujarnya.

“Kalau saya punya mental penjilat, harusnya 2014 Jokowi saya jilat dan puja puji, sudah pasti saya jadi pejabat. Tapi tidak kan? Saya pergi untuk sebuah prinsip.”

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close