Trending

TMII direbut Pemerintah, Jokowi bakar lumbung Cendana pelan-pelan

Presiden Jokowi baru saja mengeluarkan Perpres untuk mengambil alih kembali pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari tangan Cendana ke tangan Pemerintah. Langkah itu dilakukan usai selama 44 tahun TMII dikuasai oleh keluarga Cendana lewat Yayasan Harapan Kita.

Langkah yang sama juga dilakukan Pemerintah di bawah kendali Jokowi, yang merebut Gedung Granadi dari kuasa anak eks Presiden Soeharto, Tommy Soeharto, lewat Pengadilan, walau harus melewati proses alot.

Apa yang dilakukan Jokowi mengambil alih TMII ke tangan Pemerintah tentu bisa jadi mengusik ketenangan keluarga Cendana. Apalagi sejak reformasi di tahun 1998 belum ada satu presiden pun yang berani mengusik mereka.

Sejumlah alasan menjadi pertimbangan presiden-presiden sebelumnya, mulai dari karena mereka menghormati mantan presiden Soeharto, yang bagaimana pun sudah 32 tahun memimpin Indonesia, tetap saja memiliki pengaruh besar di hati para politikus di negeri ini.

Alasan kedua, lantaran kekayaan dan jaringan Cendana yang begitu kuat dan besar, sehingga ada kekhawatiran apabila mereka diusik, maka jaringannya akan bergerak, dan akan membuat beberapa konflik di sejumlah daerah.

Analisa itu disampaikan pegiat media sosial Denny Siregar. Kata dia, selama 32 tahun berkuasa sudah pasti Soeharto tahu peta-peta kemungkinan konflik di beberapa daerah, bahkan nasional. Kebencian terhadap etnis China salah satu contohnya, adalah bibit yang dipelihara sejak lama dan dibenturkan kalau ada kesempatan.

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi di istana Bogor, Jawa Barat. Foto Instagram @jubir_presidenri

“Perhatikan saja, setiap ada gelagat kerusuhan, sasarannya selalu ada toko China. Seolah-olah kebenciannya datang dari masyarakat. Padahal itu sebenarnya settingan. Selama ini, keluarga Cendana aman dan nyaman, enggak ada yang usik. Mereka terus mengembangkan usaha mereka dan mengembangkan aset mereka yang dikuasai selama masa orde baru,” katanya dikutip dari saluran Youtube Cokro TV, Jumat 9 April 2021.

Jokowi datang Cendana meradang

Ketenangan keluarga Cendana, kata Denny, belakangan baru mulai terusik semenjak kehadiran Presiden Jokowi. Dia adalah orang yang mereka tak sangka-sangka bakal mengusik mimpi indah mereka.

Ketika Jokowi memimpin, hal pertama yang dia lakukan adalah membersihkan mafia-mafia mulai mafia migas, sampai pangan. Dan karena keluarga Cendana pernah berkuasa 32 tahun, di Indonesia, mereka sudah pasti punya bagian dari jaringan-jaringan itu.

Gonjang-ganjing di Indonesia, termasuk demo -demo besar yang selama ini tidak pernah terjadi di Indonesia, lantas bermunculan di era Jokowi berkuasa.

Penyebabnya, Jokowi seolah membakar lumbung tempat mereka selama ini mencari makan, sehingga para tikus berlarian keluar dan ngamuk di mana-mana mencari sasaran empuk untuk dirusak.

“Dengan dana yang begitu besar yang dikumpulkan dari mengeruk kekayaan Indonesia setiap bulan, jaringan mafia itu menggunakan ormas-ormas untuk menggoyang pemerintahan lewat demo-demo yang memiliki potensi kerusuhan.”

“Ormas-ormas itu dipelihara, diberi makan, dan digerakkan ketika Jokowi hendak memperbaiki kerusakan yang selama ini mereka lakukan. Bayangkan, kerepotan yang dihadapi Jokowi ketika dia berusaha memperbaiki sesuatu begitu banyak gangguan yang dia hadapi di lapangan,” katanya lagi.

Pada akhirnya, menurut Denny, Jokowi berhasil mengidentifikasi masalah. Dia tahu bahwa ormas-ormas yang berbaju agama ini adalah bagian dari tangan-tangan mafia yang selama ini diberantas.

Maka dia pun kemudian fokus untuk memotong tangan-tangan ini dulu. “Tapi masalahnya, memotong tangan ini juga tidak mudah. Putus satu, tumbuh satu. Semakin besar, sehingga harus dicari di mana sih titik pusat kelemahan,” katanya.

TMII direbut dari Cendana

Bukan sekadar memotong tangan-tangan mafia, Jokowi, kata Denny, juga berusaha menginventarisasi aset-aset negara yang selama ini dikuasai oleh swasta. Maka itu, dia kemudian memerintahkan untuk mengambil alih TMII dari tangan Cendana.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Foto: Antara.
Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Foto: Antara.

Bukan cuma TMII, berikut juga dengan GBK, Kemayoran, sampai Gedung Granadi. Di mana total nilai aset tersebut sebesar hampir Rp600 triliun. Untuk mempermulus langkah, Jokowi kemudian mengatur revisi undang-undang KPK.

Ini dianggap penting agar KPK bisa fokus dalam pengambilalihan aset ini.

Sebagai catatan sejarah, TMII dibangun Cendana pada 1970-an, ketika Ibu Tien Soeharto baru pulang dari Amerika dan ingin buat Disneyland di Indonesia. Pembangunan TMII ini dibangun dengan dana yang kalau dihitung dengan kurs sekarang, sekira Rp5 triliun.

Padahal pada saat yang sama, Presiden Soeharto sendiri mencanangkan gerakan ikatkan ikat pinggang supaya seluruh masyarakat berhemat, dan kemudian terjadilah gesekan antara masyarakat dan aparat.

“Dan kabarnya Soeharto mengerahkan preman untuk menekan para pendemo, supaya mereka mundur dari jalanan. Pembangunan TMII kemudian jalan terus. Dan Yayasan harapan Kita sebagai ‘kantung semar’ keluarga Cendana itu ditunjuk sebagai pengelola TMII.”

“Gila memang, duitnya dari negara berdiri di atas tanah negara eh yang dapat hasilnya swasta,” katanya lagi.

Menurut dia, sudah 44 tahun keluarga Cendana mendapat keuntungan besar dari TMII. Terlebih mereka menunggak pajak miliaran rupiah. Sebenarnya Pemerintah dianggap sudah memberi kesempatan pada Yayasan Harapan Kita untuk memperbaiki kerjanya, dan menyetor pendapatan ke negara.

Tetapi sesudah dikasih kesempatan tetap tidak ada perbaikan. “Dan pada akhirnya, negara mengambil alihnya. Dan apakah Anda tahu, berapa nilai Taman Mini Indonesia Indah sekarang? Diperkirakan, nilainya Rp20 triliun. Dahsyat kan?”

“Itulah mengapa saya mendukung Jokowi sejak lama. Dialah putra reformasi sebenarnya. Dan di tangan Jokowi, negara ini dipulihkan pelan-pelan,” kata Denny mengakhiri pandangannya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close