Trending

TNI vs Habib Rizieq, Rocky Gerung ke Prabowo dan Jenderal Andika: Apa poinmu?

Pengamat politik Rocky Gerung heran Istana bersikap ambigu atas terjunnya prajurit TNI dalam menindak baliho Habib Rizieq Syihab dan unjuk kekuatan di depan markas Front Pembela Islam di Petamburan Jakarta Pusat Jumat pekan lalu. Istana mengatakan tak memerintahkan Pangdam Jaya untuk bermanuver, tapi malah membiarkan polemik berlanjut di perang opini publik. Rocky Gerung juga mencari di mana Prabowo dan Jenderal Andika dalam polemik manuver TNI ini, kok diam saja.

Selain ‘diamnya’ Istana, Rocky Gerung juga menyoroti membisunya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam polemik prajurit TNI turun gunung mencopoti baliho Imam Besar FPI tersebut.

Muslima Fest

Baca juga: Arti nama 8 anak artis India unik, ada yang terinspirasi dari Nabi Ibrahim

Rocky Gerung tagih Prabowo dan Jenderal Andika

Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa
Kasad Jenderal TNI Andika. Foto Instagram @tni_angkatan_darat

Rocky Gerung mengatakan sikap ambigu dan diamnya Istana atas manuver TNI dalam Habib Rizieq ini menunjukkan mereka sedang melihat bagaimana polemik berkembang di publik.

Secara mudahnya, Istana sedn testing water, sejauh mana publik merespons manuver TNI dalam ruang sipil. Namun demikian, dia dan publik juga menanti bagaimna respons dari KSAD Jenderal Andika Perkasa dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

“Istana lagi konsolidasi itu, tapi orang tetap menanti, Menteri Pertahanan apa poinnya soal itu, KSAD apa poinnya soal itu. Orang tetap akan menunggu. Keterangan Istana mesti formil dan nggal boleh ambigu,” jelasnya dalam percakapana dengan Hersubeno Arief dalam kanal Youtube Rocky Gerung Official, dikutip Senin 23 November 2020.

Istana testing water

Prabowo Subianto
Prabowo Subianto. Foto Instagram @prabowo

Rocky mengkritik sikap ambigu Istana dalam drama TNI dan Habib Rizieq belakangan ini. Kok TNI bisa-bisanya masuk dalam festival politik DKI Jakarta dan menikmati adanya adu opini publik yang sedang terjadi.

Jelas menurut Rocky, sikap ambigu Istana ini makin menambah deret blunder rezim. Makanya, Rocky mengatakan jangan salahkan publik yang memunculkan meme sarkastis yang cenderung mengolok-olok institusi TNI.

“Kalau Presiden tak tahu menahu (manuver Pangdam Jaya) semestinya beri sanksi. Kan hirarki komando dalam militer yang ambil inisiatif harus perintah pejabat tingginya. Kalau hanya keterangan pers (dari staf KSP) seolah membenarkan itu artinya Istana mau ambil keuntungan dari opini publik. Ini berbahaya mau umpankan perdebatan. Baliho itu kampanye politik sipil, saya menagih kejelasan Istana soal bagaimana sikap peristiwa di Petamburan,” jelas Rocky dalam kanal Youtube Rocky Gerung Official dikutip Minggu 22 November 2020.

Dia menilai tampilnya Pangdam Jaya dalam kasus Petamburan dan pencopotan baliho Habib Rizieq ini adalah testing water politik dan publik juga paham manuver Istana testing water dengan mengumpankan Pangdam Jaya.

Rocky Gerung menganalisis, Pangdam Jaya jadi tameng dan dapat restu Istana, meskipun sikap Istana dalam keterangan persnya, jelas ambigu.

“Jadi kalau militer misalnya pak Pangdam Jaya anggap itu HRS keterlaluan, itu kesimpulan pribadi beliau sebagai warga negara. Kalau itu kesimpulan institusi pun, nggak ada soal, tapi kesimpulkan (manuver ke HRS) itu harus disampaikan kepada Presiden, supaya Presiden yang putuskan. Apakah turunkan baliho atau enggak. Jadi tak boleh Pangdam Jaya ambil keputusan, Pangdam boleh buat kesimpulan jangan buat keputusan,” jelas Rocky.

Insiden pencopotan baliho Habib Rizieq oleh TNI itu, membuat publik menganalisis ada upaya Istana untuk menyelundupkan sesuatu secara samar-samar dan itu ditafsirkan samar-samat pula oleh Pangdam Jaya.

Kesimpulan awal Rocky soal manuver Pangdam Jaya yaitu Pangdam Jaya merasa dapat izin diam-diam dari Istana untuk bermanuver. Selama tak mendapat teguran, Pangdam Jaya akan merasa melakukan fungsinya menjaga ketertiban dan keamanan.

“Mungkin Pangdam anggap Istana mengizinkan secara diam-diam test agreement untuk memberi sinyal ada yang terganggu keutuhan berbangsa. Tapi itu bukan dimaksudkan untuk minta Pangdam turunkan tentara. Pubik akan tagih kenapa Pangdam yang berinisiatif turunkan baliho,” ujar bekas dosen Universitas Indonesia itu.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close