Memahami ikhtilat ditelaah ternyata berbeda dengan khalwat, begini penjelasannya

- Selasa, 25 Januari 2022 | 22:42 WIB
Ilustrasi pesta pernikahan. Foto: Pixabay
Ilustrasi pesta pernikahan. Foto: Pixabay

Hops.ID-Ikhtilat berasal dari kata ikhtalatha-yakhtalithu-ikhtilathan yang memiliki arti bercampur atau berbaur antara laki-laki dan wanita. Meski memiliki arti bercampur makna ikhtilat adalah berbeda dengan khalwat yang juga bercampur antara laki-laki dan perempuan.

Khalwat sendiri memiliki arti bercampur atau berbaur laki-laki dengan perempuan namun hanya berdua saja. Sedangkan ikhtilat bercampur laki-laki dan wanita dalam satu tempat dengan jumlah lebih dari dua orang.

Secara hukum syariat islam ikhtilat diperbolehkan saat bercampur antara laki-laki dan perempuan dalam satu tempat, hanya dengan menggunakan pembatas. Aturan bercampurnya tersebut juga memiliki banyak anjuran dan pemahaman. Baca Juga: Penganut Katolik, 2 artis ini ungkap alasan enggak jadi pindah agama ke Islam

Dimana para ulama memandang perlunya pembatas antara laki-laki dan wanita menggunakan tembok ataupun kain yang memisahkan keduanya. Namun adapula ulama yang berpendapat, pemisahan tersebut bisa juga dilakukan dengan jarak.

Viral pemuda pesta miras, dengar lagu religi dan hina Nabi Muhammad. Foto: Instagram


Ikhtilat terjadi secara kolektif dan bersama. Di mana orang-orang laki-laki dan wanita dalam jumlah yang lebih dari dua orang berbaur dalam suatu keadaan tanpa dipisahkan dengan jarak. Baca Juga: Habib Ali al Jufri: Yang mengusik pemerintah adalah kriminal, meskipun atas nama agama dan ngaku bela Islam

Mereka yang mewajibkan harus dipasangnya kain tabir penutup ruangan berangkat dari dalil baik Al-Quran maupun As-Sunah

a. Dalil Al-Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu, dan Allah tidak malu yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah,” (QS Al-Ahzab: 53).

Ayat tersebut menyatakan bahwa memasang kain tabir penutup meski perintahnya hanya untuk para istri nabi, tapi berlaku juga hukumnya untuk semua wanita. Karena pada dasarnya para wanita harus menjadikan para istri nabi itu menjadi teladan dalam amaliyah sehari-hari. Sehingga khithab ini tidak hanya berlaku bagi istri-istri nabi saja tetapi juga semua wanita mukminat.

Jamaah haji akan bernagkat ke tanah suci

Halaman:

Editor: Mufrod

Tags

Terkini