Protes larangan ekspor migor disorot media asing, petani sawit: Malaysia tersenyum penuh, kami menderita

- Selasa, 17 Mei 2022 | 16:51 WIB
Media asing soroti protes larangan ekspor migor, Petani sawit singgung keuntungan Malaysia dan penderitaan bagi petani lokal. (Istimewa)
Media asing soroti protes larangan ekspor migor, Petani sawit singgung keuntungan Malaysia dan penderitaan bagi petani lokal. (Istimewa)

Hops.ID – Larangan ekspor minyak goreng dan bahan mentahnya, minyak sawit atau crude palm oil (CPO) masih berbuntut panjang. Pasalnya, hari ini tertanggal 17 Mei 2022, ratusan petani sawit menggelar aksi protes di Jakarta menuntut pemerintah untuk mengakhiri larangan ekspor tersebut.

Aksi protes ini turut mencuri perhatian beberapa media asing, salah satunya The Strait Times, sebuah media harian Singapura yang turut melaporkan aksi demo.

Dalam tulisan berjudul "Indonesian farmers stage protests against palm oil export ban", media Singapura tersebut menggambarkan bagaimana kebijakan larangan eskpor telah merugikan banyak petani sawit.

Kebijakan larangan ekspor minyak sawit sebagai bahan mentah minyak goreng ini disebut telah mencekik para petani sawit, mengingat aturan ini memangkas pendapatan mereka. Menurut data yang dilaporkan, sejak diterbitkannya aturan tersebut, harga sawit anjlok hingga 70 persen di bawah harga dasar yang telah ditetapkan daerah.

Baca Juga: UAS beberkan kronologi sebelum dideportasi Singapura: Saya dimasukkan ke dalam ruangan, pas macem liang lahat

“Petani Malaysia tersenyum penuh, petani Indonesia menderita,” tulis salah satu spanduk yang dipasang oleh para pengunjuk rasa.

Spanduk protes ini menyinggung soal keuntungan yang didapat Malaysia sejak Indonesia menerbitkan larangan ekpor minyak goreng.

Sebab, sebagai penghasil minyak sawit terbesar kedua setelah Indonesia, pasar menjadi terbuka amat lebar bagi malaysia sejak Indonesia menghentikan ekspor minyak sawit ini.

Selain itu, The Strait Times juga menulis soal salah satu dilema yang harus dihadapi oleh para petani yaitu ketika panen tak menguntungkan tetapi jika buah tidak dipanen maka akan membusuk dan merusak pohon. Hal ini diungkapkan oleh Bambang Gianto salah seorang petani berasal dari Sumatera Selatan

Baca Juga: Bertahun-tahun membela satu klub, berikut 5 pemain sepak bola Eropa yang dijuluki si paling setia

Halaman:

Editor: Nariyati

Sumber: The Strait Times

Tags

Artikel Terkait

Terkini

7 Kasus pelanggaran pelanggaran HAM di Indonesia

Sabtu, 3 Desember 2022 | 09:56 WIB

Inflasi melandai, momentum bagus jelang Nataru

Jumat, 2 Desember 2022 | 20:19 WIB