Buya Yahya bicara menyeramkan balasan orang murtad: Haram jenazahnya disholati bungkus saja

- Rabu, 18 Mei 2022 | 12:55 WIB
Buya Yahya jelaskan tentang balasan orang murtad. (Youtube Al Bahjah TV)
Buya Yahya jelaskan tentang balasan orang murtad. (Youtube Al Bahjah TV)

Hops.ID - Kasus seorang warga Langkat, Sumatera Utara yang dikabarkan keluar dari agama Islam atau murtad memang sempat membuat gempar publik. 

Namun, tidak hanya terjadi di Kabupaten Langkat saja, kasus warga murtad sempat terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Namun bagaimana agama Islam menyikapi tentang kasus murtad ini?

Ulama besar Buya Yahya dalam satu ceramahnya sempat mewanti-wanti kepada umat Islam agar betul-betul bisa menjaga iman dengan baik dan jangan sampai murtad.

Baca Juga: Di daerah ini 25 orang keluar dari agama Islam jadi murtad gegara Muhammad Kace

Buya Yahya menegaskan, orang yang murtad adalah orang yang rendah atau orang hina bukan hanya di dunia, tapi juga diakhirat, karena dia kata Buya berkhianat, sudah tidak percaya lagi dengan Allah, Nabi Muhammad, AlQuran dan sebagainya.

"Murtad adalah rendah. Dan harus kami sampaikan tegas agar orang waspada, orang murtad itu hina atau rendah di akhirat," kata Buya Yahya dikutip Hops.ID dari akun Youtube Al-Bahjah TV pada Selasa, 17 Mei 2022.

Buya Yahya kemudian mengajak orang orang murtad agar bertaubat dan kembali kepada Allah SWT, karena Allah sejatinya Maha Pengampun. Karena dengan taubat yang sebenar benarnya taubat orang murtad bisa diampuni Allah.

Baca Juga: Kristen benci perceraian, alasan Jessica Mila tak mau menikah beda agama

"Murtad adalah keluar dari iman dan dia adalah rendan, hukumannya besar, kalau mati tidak ada surga bagi dia. Dan semua amal baik yang pernah dia lakukan tidak ada gunanya. Bahkan di dunia pun tidak terhormat. Tidak boleh kita sholati, orang murtad haram di sholati, haram dimandikan, bungkus saja, kemudian masukan ke liang lahat,"katanya.

Halaman:

Editor: Ratih Nugraini

Sumber: Youtube Al Bahjah TV, Suara Sumut

Tags

Artikel Terkait

Terkini