Sebut Virus Hendra lebih mematikan dari Covid 19, pakar epidemiolog Unair kirim pesan ini ke pemerintah

- Jumat, 3 Juni 2022 | 14:45 WIB
Virus Hendra lebih mematikan dari Covid 19, epidemiolog Unair kirim pesan peringatan ke pemerintah. (Qimono/Pixabay)
Virus Hendra lebih mematikan dari Covid 19, epidemiolog Unair kirim pesan peringatan ke pemerintah. (Qimono/Pixabay)

Hops.ID – Usai wabah Covid 19  mereda, kini virus baru mulai ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia. Dinamai sebagai Virus Hendra, ahli epidemiolog Universitas Airlangga menyebut virus ini perlu perhatian khusus karena dianggap lebih mematikan dari Virus Covid 19.

Dalam sebuah siaran pers yang dipublikasikan Universitas Airlangga (Unair), Epidemiolog Unair, Laura Navika Yamani menyebut bahwa case fatality rate atau tingkat kematian akibat Virus Hendra cukup tinggi jika dibanding dengan Covid 19.

Meski menurut data yang dihimpun sejak tahun 1994 hingga tahun 2003, hanya tujuh orang yang dilaporkan meninggal dunia setelah terserang virus ini. Tetapi angka kematian akibat virus ini puluhan kali lipat lebih tinggi dari virus Covid 19. 

Baca Juga: Tiba di bandara sepulang dari Swiss, Ridwan Kamil berjalan lesu sambil tertunduk tak bergairah

“Fatality rate atau atau tingkat kematiannya lebih tinggi. Jika Covid 19 pada tingkat 3-4 persen, Virus Hendra berada pada tingkat 50 persen kematiannya,” kata Laura.

Virus yang pertama kali ditemukan tahun 1994 di kawasan Hendra, Brisbane, Australia ini bersumber pada kelelawar dan menyerang sisem pernafasan serta sistem neurologi pada hewan dan manusia. Virus ini juga bersifat zoonosis yaitu berpindah dari host ke host atau dari hewan ke manusia.

Lebih lanjut, Laura menambahkan penjelasan bahwa penularan virus ini ke tubuh manusia menggunakan perantara mamalia, secara khusus pernyataan ini merujuk pada kuda. Hal ini dikarenakan kuda dengan kelelawar memiliki habitat yang sama.

Baca Juga: Ketua MK Anwar Usman: Demi Allah saya tidak tahu kalau Idayati adik Jokowi, netizen sebut ngibul

“Karena sifatnya menular melalui droplet, kelelawar pemakan buah yang memiliki habitat dengan kuda dapat buang kotoran atau urine yang akhirnya bercampur dengan rumput yang menjadi makanan kuda. Sehingga rumput yang akan dimakan kuda telah terkontaminasi dengan virus tersebut,” tambahnya.

Halaman:

Editor: Anisa Widiarini

Sumber: Siaran Pers Universitas Airlangga

Tags

Artikel Terkait

Terkini