Rusia makin kuat, Ukraina akui bantuan drone asal Turki dan AS tidak lagi berguna

- Jumat, 24 Juni 2022 | 10:48 WIB
Persenjataan Rusia semakin canggih, Ukraina keluhkan drone yang disediakan Turki AS tidak lagi berguna. (twitter @ltaMilRadar)
Persenjataan Rusia semakin canggih, Ukraina keluhkan drone yang disediakan Turki AS tidak lagi berguna. (twitter @ltaMilRadar)

Hops.ID - Bantuan persenjataan dari berbagai negara yang terus mengalir ternyata seringkali tidak sesuai dengan yang diharapkan. Baru-baru ini armada udara di Ukraina terlibat perdebatan soal drone yang disediakan Turki-AS dinilai tak lagi mampu melawan kekuatan Rusia.

Dalam sebuah wawancara, seorang pilot Ukraina mengatakan, drone serang MQ-1C Gray Eagle milik AS dan Bayraktar TB-2 Turki kini tidak berguna, karena makin canggihnya pertahanan udara yang dikerahkan Rusia.

Pejabat Ukraina dan AS juga sepakat soal semakin kuatnya persenjataan pasukan Rusia dalam memperkuat pertahanan udaranya.

Alhasil mereka menyebut Grey Eagle bisa dengan mudah dijatuhkan oleh Rusia dan hanya bertahan dalam satu atau dua misi tempur saja.

Baca Juga: Denise Chariesta berkunjung ke Komnas Perempuan, merasa dilecehkan Razman Nasution

Pasalnya, drone yang dipersenjatai rudal hellfire ini hanya bisa mencapai target dengan jangkauan 5 mil jauhnya. Jika dibandingkan dengan apa yang dimiliki Rusia, drone ini jelas tidak sebanding.

“Sistem mereka (Rusia) bekerja pada skala yang lebih besar. Radar peringatan dini mereka bekerja. Pertahanan udara mereka bekerja. Jadi kehilangan Eagle Grey adalah kemungkinan nyata untuk pertahanan berlapis tersebut,” ucap Samuel Bendet, penasehat lembaga CNA.

Pilot tempur Ukraina juga membenarkan soal rentannya drone ini jika harus berhadapan dengan persenjataan Rusia.

Baca Juga: Setelah Iqlima Kim, ada 2 klien Razman Nasution lainnya yang mau ganti pengacara, Richard Lee: Putusin aja!

“Sangat berbahaya menggunakan drone mahal seperti itu dalam kasus kami karena pertahanan udara musuh. Ini bukan Afghanistan,” ucap salah satu pilot Ukraina.

Halaman:

Editor: Dion Yudhantama

Sumber: RIA Novosti, Foreign Policy

Tags

Artikel Terkait

Terkini