Tragedi Kanjuruhan, 31 polisi diperiksa, diduga melanggar kode etik

- Kamis, 6 Oktober 2022 | 11:58 WIB
Aremania yang masuk ke dalam lapangan stadion Kanjuruhan seusai pertandingan Arema FC dan Persebaya (Twitter @mhmmd_faizall)
Aremania yang masuk ke dalam lapangan stadion Kanjuruhan seusai pertandingan Arema FC dan Persebaya (Twitter @mhmmd_faizall)
 
Hops.ID - Sebanyak 31 anggota polisi diperiksa terkait dengan tragedi Kanjuruhan. Mereka diperiksa karena diduga melanggar kode etik. Hal itu diungkap oleh Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo.
 
"Saat ini dari Irwasum maupun Propam sudah melakukan pemeriksaan terhadap 31 anggota Polri dikarenakan akibat ada dugaan pelanggaran kode etik," kata Dedi Prasetyo, dilansir dari Suara--jaringan Hops.ID, Kamis 6 Oktober 2022.
 
Dedi menjelaskan, pemeriksaan dilakukan secara mendalam dan detail, dengan mempertimbangkan unsur-unsur ketelitian dan kehati-hatian.
 
 
Menurutnya ada hal-hal yang harus terkuak dalam kaitannya dengan pemeriksaan 31 orang anggota Polri yang bertugas di tempat kejadian pengamanan dalam pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya.
 
“Karena unsur ketelitian, kehati-hatian, dan kecermatan yang dilakukan oleh tim ini harus menjadi standar utama,” ujar Dedi.
 
Selain itu, Dedi juga menambahkan, harus ada tim penyidik yang harus melaporkan terkait pengamanan yang telah dilaksanakan kepada Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
 
Dedi juga menjelaskan, pihaknya sudah memeriksa empat orang dari eksternal polisi. Jadi, total ada 35 orang saksi yang diperiksa terkait tragedi Kanjuruhan.
 
 
“Pemeriksaan para saksi sudah mencapai 35 saksi, baik itu saksi dari internal anggota Polri yang terlibat dalam pengamanan tersebut maupun dari saksi eksternal,” sambungnya.
 
Untuk mendapatkan serta menetapkan status tersangka dalam tragedi Kanjuruhan, Dedi mengatakan pihaknya mengutamakan prinsip kehati-hatian.
 
"Tentunya kehati-hatian juga harus diutamakan, karena ketika menempatkan status tersangka seseorang, harus ada syarat formil serta materil yang harus terpenuhi karena itu berkaitan dengan konsekuensi yuridis," paparnya.
 
 
Seperti diketahui, tragedi Kanjuruhan menewaskan 131 orang pada Sabtu 1 Oktober 2022 lalu. Tragedi tersebut terjadi usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya. Pada laga itu, Arema harus takluk dari Persebaya di kandangnya sendiri.
 
Usai peluit panjang ditiup, sejumlah supporter Arema masuk ke lapangan. Polisi langsung menggunakan berbagai cara untuk menghentikan mereka yang masuk lapangan, termasuk menembakkan gas air mata.
 
Gas air mata yang ditembakkan ke tribun, menyebabkan penonton di tribun berhamburan dan berdesakkan ingin keluar. Desak-desakan ini lah yang diduga jadi sebab ratusan korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan. ***

Editor: Dion Yudhantama

Sumber: Suara

Tags

Terkini

7 Kasus pelanggaran pelanggaran HAM di Indonesia

Sabtu, 3 Desember 2022 | 09:56 WIB

Inflasi melandai, momentum bagus jelang Nataru

Jumat, 2 Desember 2022 | 20:19 WIB