Fit

Trump paksa FDA patenkan bunga Oleander beracun untuk obat covid-19

Masih ingat kecerobohan Trump menyebut cairan desinfektan bisa diminum untuk atasi covid-19? Terakhir kali terjadi, banyak korban berjatuhan karena meyakini apa yang dikatakan trump. Kini setelah isu tersebut mereda, warga Amerika kembali dihebohkan dengan klaim bunga oleander untuk obat mengatasi covid.

Kali ini juga datangnya dari Trump, Presiden Amerika Serikat itu diberitahu oleh CEO MyPillow (perusahaan pembuat bantal) Mike Lindell bahwa khasiat senyawa oleandrin dari bunga oleander untuk obat bagi pasien covid-19 sangat manjur. Ia bahkan menyebut bahwa dirinya yang sebagai pendukung utama presiden telah berinvestasi di Phoenix Biotechnology, yang melakukan ekstrak untuk tanaman tersebut.

Baca juga: Jadi pertama di dunia, Obat Covid-19 Unair dikritik gegara lapornya ke BIN dan TNI

Lindell, dalam percakapan dengan Yahoo Life, menyebut oleandrin sebagai obat ajaib, namun sayangnya ucapan Lindell tidak didukung dengan bukti yang akurat.

Sayangnya Trump keburu percaya bahwa ekstrak dari semak Nerium oleander di Afrika Utara dan Mediterania Timur ini sangat ambuh atasi covid-19. Menurut laporan Presiden Trump bahkan memaksa Badan Pengawas Obat dan Makanan, Food and Drug Administration (FDA) untuk menyetujui dan mematenkannya pada Juli 2020 lalu. Namun hingga kini belum ada kabar soal tindak lanjutnya.

Ilustrasi vaksin Covid-19
Ilustrasi vaksin Covid-19. Foto Instagram @consciouslifenews

Peneliti sebut Oleandrin penyebab keracunan tertinggi di AS

Meskipun Trump disebut sangat percaya namun sebaliknya, para ahli di bidang toksikologi dan virologi justru menyebut bahwa bunga Oleandrin sangat beracun.

“Tanaman ini sering dijadikan alat populer untuk meracuni orang dan percobaan bunur diri di AS,” kata Marino.

Data dari pusat kendali racun sulit diperoleh, tetapi dalam satu retrospektif dari hampir 6.500 paparan tanaman beracun, oleander adalah tanaman kedua paling beracun yang paling sering terlibat.

Oleandrin atau dikenal di Indonesia dengan bunga Oleander atau bunga jepun, merupakan bunga yang mengandung zat racun mematikan di dalamnya. Selain beracun, bunga ini juga belum pernah diujicoba untuk mengatasi covid-19.

Dr. Ryan Marino, seorang ahli toksikologi medis dan dokter darurat di Ohio, mengatakan bahwa oleandrin adalah senyawa paling aktif dalam tanaman oleander.

Baca juga: Jepang jadikan deksametason obat COVID-19, bisa tekan angka kematian

Zat ini juga disebut sangat beracun yang membuat tanaman tersebut tahan hidup dalam segala macam cuaca. “Setiap bagian tanaman tersebut bahkan beracun, itu karena zat oleandrin,” ujar Marino kepada Yahoo Life.

Dia mengatakan tanaman tersebut lebih menyukai suhu hangat, biasanya ditemukan di AS Barat Daya, di mana kadang-kadang digunakan dengan cara yang berbahaya.

Menurut halaman informasi dari Mount Sinai Health System di New York, keracunan oleander dapat terjadi ketika seseorang memakan bunga, daun, batang, atau bahkan ranting tanaman oleander.

Mengkonsumsinya dapat menyebabkan gejala mulai dari diare, gatal-gatal dan sakit perut hingga detak jantung lambat, kebingungan, dan kematian.

Marino, yang mengatakan mengejutkan melihat ekstrak tersebut dibahas sebagai pengobatan COVID-19. “Ini dapat menyebabkan efek yang cukup banyak dari kepala sampai kaki. Orang yang sangat dini akan mengalami mual, muntah, perubahan penglihatan, pusing, pusing, kesulitan berjalan.”

Tapi toksisitas buruknya adalah ia langsung bekerja pada jantung Anda, sehingga orang akan mendapatkan detak jantung rendah, tekanan darah rendah, dan itu bisa menyebabkan kematian.

Hingga kini belum ada bukti ilmiah bahwa itu aman atau efektif pada manusia

Menurut Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York, yang memuat halaman informasi tentang ekstrak tersebut, oleandrin telah dipelajari di AS sebagai pengobatan kanker potensial.

Tetapi meskipun telah menunjukkan kemampuan mematikan sel kanker pada mencit, namun tidak jelas apakah efek ini dapat terjadi dalam tubuh manusia.

Rumah sakit yang terkenal dengan perawatan kankernya ini menambahkan bahwa keamanannya belum teruji pada manusia. “Uji klinis belum mengevaluasi aktivitas antikanker oleandrin pada manusia,” catat MSK.

Ia menambahkan bahwa tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung klaim bahwa oleandrin dapat mengobati gagal jantung kongestif, hepatitis C atau AIDS.

Tidak ada penelitian yang menunjukkan oleandrin dapat melawan COVID-19 pada manusia, sejauh ini, hanya ada satu studi yang mengeksplorasi potensi manfaat oleandrin untuk COVID-19, analisis non-peer-review dari University of Texas Medical Branch (UTMB).

Para peneliti menguji ekstrak pada sel ginjal dari monyet hijau Afrika dan menemukan oleandrin mampu mengurangi jumlah COVID-19 yang diproduksi oleh sel.

Meskipun ini mungkin terdengar menjanjikan, Dr. Scott Weaver, seorang ahli virologi dan ahli biologi vektor di UTMB yang berkontribusi pada penelitian ini, mengatakan bahwa hal itu tidak boleh disalahartikan.

“Efek dalam kultur sel in vitro tidak selalu memprediksi bahwa obat tersebut akan efektif pada hewan atau manusia,” kata Weaver.

Tentu saja, hydroxychloroquine juga bekerja dengan baik dalam kultur sel in vitro, tetapi beberapa penelitian menunjukkan tidak ada kemanjuran pada orang yang terinfeksi COVID-19.

“Ada banyak obat seperti ini yang awalnya tampak menjanjikan, tetapi kemudian gagal di kemudian hari karena berbagai alasan,” kata Weaver.

Seringkali jika itu adalah senyawa baru yang belum diuji sama sekali pada manusia, atau bahkan pada hewan, ternyata tidak cukup larut atau tidak didistribusikan dengan cara yang benar di dalam tubuh hewan atau manusia atau terlalu beracun untuk digunakan.

Individu sebaiknya tidak mencoba oleandrin sendiri
Laporan orang yang memakai oleander baik karena membacanya secara online atau mengonsumsinya secara tidak sengaja adalah hal biasa.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close