Trending

UAS beberkan hukum merokok dalam Islam, boleh atau haram?

Sejauh ini, banyak tokoh ulama silang pendapat terkait hukum merokok dalam Islam. Sebagian mengatakan boleh, namun tak sedikit yang tegas melarangnya. Terkait hal itu, Ustaz Abdul Somad atau UAS berusaha mencari jalan tengah dengan mengacu pada ucapan sejumlah ahli.

Pada salah satu kesempatan, ada jamaah UAS yang bertanya mengenai hukum merokok dalam Islam. Si penanya itu merasa bingung, sebab dia tahu rokok berbahaya untuk tubuh, namun dia juga menyadari bahwa banyak ulama yang tetap berani menghisapnya. Lantas, bagaimana tanggapan UAS?

Baca juga: Pahala baca terjemahan Al quran, samakah dengan baca ayatnya? Ini kata UAS

“Ini mengenai rokok, kira-kira bagaimana menurut ustaz hukum merokok bagi umat Islam? Karena masih banyak nih ustaz-ustaz yang merokok,” tanya pria tersebut, dikutip dari video berjudul ‘UAS menjawab hukum merokok’ di saluran Youtube Sunarto Ato Sastromiharjo, Senin 19 Oktober 2020.

Ustaz Abdul Somad. Foto: Dok Antara.
Ustaz Abdul Somad. Foto: Dok Antara.

UAS pun lekas menjawab pertanyaan tersebut. Dia berkisah, dahulu—saat masih di pesantren, dia pernah merokok bersama sejumlah temannya. Namun, kini sudah berhenti, lantaran menurutnya lebih banyak kerugian ketimbang keuntungan dari merokok.

Sementara terkait hukum, kata dia, mufti atau orang-orang yang menguasai ilmu ushul fikih di Mesir dan Arab Saudi kebanyakan mengharamkan kegiatan merokok. Sementara di Tanah Air, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bertindak sebagai pembuat fatwa cenderung melonggarkan hukumnya.

“Saat saya kuliah di Mesir, muftinya mengeluarkan fatwa rokok haram, mufti di Arab Saudi, Syekh Abdul Aziz Ibnu Baz menulis rokok haram, fatwa Muhammadiyah rokok haram, fatwa MUI rokok hanya haram bagi ibu hamil, ibu menyusui, laki-laki yang sakit, dan anak-anak. Kalau yang sehat, makruh,” terang UAS panjang lebar.

“Saya sendiri apakah merokok? Tidak, tapi saya pernah merokok. Dulu pas pesantren diajak kawan. Masa kita anak muda enggak merokok? Enggak jantan,” sambungnya yang kemudian disambut gelak tawa dari jamaah yang datang.

Paru-paru perokok berat

UAS bercerita, saat pesantren dia pernah ketahuan merokok. Imbasnya, dia dan teman-temannnya terancam dihukum dengan pukulan serta rambut yang digundul habis. Namun, kala itu dia bernazar kepada Tuhan, setelah kejadian itu, dia memutuskan berhenti merokok.

UAS menyadari sulit menentukan hukum merokok

Sementara pada kesempatan berbeda, UAS secara tak langsung mengaku, agak sulit menentukan hukum merokok dalam Islam. Maka akibatnya, banyak masyarakat awam yang terus bertanya-tanya mengenai kebenarannya.

“Kenapa orang bersilang pendapat masalah rokok? Karena tidak disebutkan di dalam ayat secara teks, tapi ayatnya tidak tekstual. Mana ayatnya? ‘Jangan kau jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan’,” terangnya mengutip ayat Alquran.

UAS kemudian menuturkan, dahulu di bungkus rokok tertera peringatan rokok bisa menyebabkan penyakit berbahaya seperti impotensi, kanker, penyakit paru-paru, dan lainnya. Namun kini, secara tegas ditulis dapat menyebabkan kematian atau ‘membunuh’.

“Jadi kenapa hukumnya tak satu? Karena ulama ber-ijtihad, lain kepala tentu lain isi.”

“Nah, bagaimana soal dua fatwa ini (boleh atau haram)? Pilihlah antara dua, mungkin bapak lebih condong kepada haram seperti kata Mesir dan Arab Saudi, atau (lebih condong) kepada MUI (diperbolehkan merokok),” kata dia.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close