Trending

Ubah nama program sertifikasi ulama, Kemenag: Tak ada paksaan, sukarela kok

Kementerian Agama akhirnya ubah nama program sertifikasi ulama atau dai bersertifikat lantaran mendapat kritik sana sini. Kemenag mengubah program menjadi Penguatan Kompetensi Peceramah Agama.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menegaskan tidak perlu ada lagi polemik tentang penceramah bersertifikat. Hal ini ditegaskan Wamenag usai merilis Program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama, di Jakarta.

Baca juga: Luncurkan fitur baru Reels, Instagram kena sindir TikTok di Twitter

“Kami ingin meluruskan atau mengklarifkasi bahwa nama program ini adalah Penguatan Kompetensi Penceramah Agama,” kata Wamenag dari keterangan resminya, Jumat 18 September 2020.

Ubah sertifikasi ulama, hindari polemik

Kemenag mengumumkan program Penguatan Kompetensi penceramah Agama
Kemenag mengumumkan program Penguatan Kompetensi penceramah Agama di Jakarta. Foto Kemenag

Sebelumnya, menurut Wamenag telah beredar diksi dai atau penceramah bersertifikat. “Berdasarkan masukan dan arahan dari berbagai pihak, program ini namanya adalah Penguatan Kompetensi Penceramah Agama,” ujar Wamenag.

Penetapan nama program ini menurut Wamenag sekaligus menghindari polemik dan pendapat yang saling menegasikan.

“Kami ingin keluar dari polemik tersebut. Dalam kaidah disebut, al khuruj minal khilaf mustahab. Kami ingin keluar dari polemik itu, sehingga kami bersepakat dengan nama program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama,” tegas Wamenag.

Bukan sertifikasi penceramah agama

Wamenag menegaskan program ini bukanlah sertifikasi penceramah agama, tapi lebih ke pembinaan teknis dalam rangkat penguatan kompetensi penceramah agama.

Baca juga: Ahok saran bubarkan BUMN, lihat jabatan komisaris banyak titipan

Program ini tidak hanya dilaksanakan oleh Ditjen Bimas Islam, tapi juga Ditjen Bimas Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, serta Pusat Pembinaan dan Pendidikan (Pusbindik) Khonghucu.

“Ini bukan sertifikasi. Tidak ada paksaan untuk mengikuti program ini. Sifatnya sukarela. Karenanya, yang tidak ikut Bimtek juga tidak terhalang haknya untuk terus berdakwah,” kata Wamenag.

Zainut mengatakan, Kemenag akan menjalin kerjasama dengan Majelis serta Lembaga atau Ormas Keagamaan.

Menurut Wamenag, Kementerian Agama sangat concern dalam mendorong peran yang lebih luas dari para penceramah dalam pembangunan bidang agama. Apalagi, tantangan keberagamaan semakin beragam seiring perubahan zaman yang cepat.

Banyak perubahan perubahan sosial terjadi yang disebabkan laju modernitas dengan beragam produknya. Namun, apapun tantangan itu, Wamenag yakin para penceramah dan tokoh agama akan tetap tegar mengemban amanah merawat keberagamaan dengan baik.

“Karena itu, Kemenag terus membuka diri dan juga proaktif menjalin kerjasama dan kemitraan dengan seluruh ormas keagamaan dalam optimalisasi peran para penceramah,” tutur Wamenag

Sukarela tidak wajib

Menteri Agama Fahrul Razi
Menteri Agama Fachrul Razi saat presscon virtual Foto: Youtube kemenag

Program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama ini menurut Wamenag bersifat sukarela dan akan dilakukan bagi seluruh agama.

“Saat ini ada 53 ormas keagamaan yang telah mengikuti. Dan kami tetap membuka diri bagi ormas-ormas lain yang ingin bergabung,” ujar Wamenag.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close