The Smiling Semar from America, mengenang Gregory Churchill, ahli hukum dan kolektor 8.000 wayang Indonesia

- Senin, 5 Desember 2022 | 22:42 WIB
Mengenang Gregory Churchill kolektor 8.000 wayang Indonesia, digelar Wayang Golek Cepak di Salihara. (hops.id)
Mengenang Gregory Churchill kolektor 8.000 wayang Indonesia, digelar Wayang Golek Cepak di Salihara. (hops.id)

Hops.ID - Pada 2003, UNESCO menetapkan wayang Indonesia sebagai sebuah Warisan Mahakarya Dunia yang Tak Ternilai dalam Seni Bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Usaha melestarikan wayang di Indonesia bukan hanya melalui pelatihan dalang dan pengenalan wayang pada generasi muda.

Tetapi juga dengan mengalihwahanakan wayang ke media-media seni lainnya, mulai dari film, sastra, komik hingga animasi.

Namun, yang tidak kalah penting adalah kehadiran ruang-ruang publik semacam museum, sebuah wadah bagi masyarakat untuk bisa mengakses kekayaan wayang Indonesia. 

Baca Juga: Menu bekal sehat, bubur pedas Setapak Lestari, berisi 42 jenis sayuran dan rempah, bisa tingkatkan imunitas

Namun, jangan pula dilupakan upaya dan kecintaan pribadi-pribadi semacam Gregory Churchill, seorang ahli hukum yang juga kolektor wayang Indonesia.

Yayasan Lontar menginisiasi acara A Lasting Legasting: The Smiling Semar from America, untuk mengenang kepergian Gregory Churchill (1947-2022), seorang ahli hukum yang berjasa besar dalam reformasi hukum di Indonesia.

Tetapi, yang tak kalah penting adalah kecintaan Greg terhadap seni wayang di Indonesia.

Baca Juga: Sebelum nikahi Anne Kurniasih, keluarga Teddy Syach sempat cecar kehidupan istri barunya: Apa yang kurang...

Halaman:

Editor: Ratih Nugraini

Tags

Artikel Terkait

Terkini