Siaran Pers

Universitas Islam As-Syafiiyah Jakarta gelar maulid nabi

Universitas Islam As-Syafiiyah Jakarta menyelenggarakan Maulid Nabi Muhammad SAW, Rabu 4 November 2020. Bertepatan dengan 18 Rabiul Awal 1442 Hijriyah, Peringatan Maulid Nabi yang diselenggerakan di Masjid Al Barkah kampus I mengambil tema “Meneladani Rasulullah dalam Hidup Bernegara”.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci alquran oleh Hafifi Umar mahsiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan juara MTQ nasional Mahasiswa tahun 2018 juga dimeriahkan oleh penampilkan hadrah dan bacaan shalawat oleh ibu2 anggota BKMT.

Baca juga: 10 Manfaat serai untuk kesehatan: Turunkan kolesterol dan berat badan

Acara dihadiri oleh pimpinan Universitas As-Syafiiyah Jakarta, termasuk juga pimpinan fakultas dan mahasiswa. Acara ini berlangsung dengan penuh hidmat.

Rektor Universitas Islam As-Syafiiyah Jakarta Dr. Masduki Ahmad, SH. MM dalam sambutannya mengatakan menyambut baik atas acara maulid ini dimana ceramah maulid disampaikan oleh Dr. Haikal Hasan sebagai salah satu tokoh yang sering tampil di media dan saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester satu fakultas hukum.

Menurutnya semangat dalam menuntut ilmu perlu dijadikan tauladan buat kita semua, karena dengan telah digapainya berbagai gelar kesarjanaan beliau masih ingin menempuh studi dalam bidang yang berbeda.

Sementara Prof. Dr. Dailami Firdaus selaku ketua Yayasan menyatakan terharu dengan acara maulid ini dan mengingatkan peristiwa-peristiwa indah dalam peringatan maulid ini kepada Prof. Tutty Alawiyah yang tak lain adalah ibundanya tercinta.

Dalam ceramah maulidnya Ustadz Haikal menyatakan bahwa sejatinya Rasulullah adalah seorang Bankir, Importir, eksportir, bankir bahkan sebagai seorang pegadaian pertama di dunia dengan kepercayaan penuh dari masyarakat madinah saat itu dan bukan hanya dari kalangan muslim saja akan tetapi memperoleh kepercayaan dari kalangan umat diluar muslim.

Ustadz Haikal menutup ceramahnya dengan menyatakan bahwa hidup dalam bernegara ala Rasulullah SAW yang paling utama adalah terwujudnya kedamaian dan perdamaian sebagaimana rasulullah menyatukan masyarakat madinah saat itu dengan perjanjian madinah yang mengikat persatuan antar umat melalui perdamaian.

Dan Pancasila sebagai dasar negara republik Indonesia ini sejatinya sudah mensyaratkan adanya perdamaian dan kelima silanya tak bisa lagi dirumuskan menjadi trisila, apalagi eka sila, dia tetap pancasila dengan kelima silanya.

Acara diakhiri dengan shalat dzuhur berjamaah.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close