Trending

Ustaz Yahya Waloni mau runtuhkan rezim, Ferdinand: Mimpinya ketinggian

Ustaz Yahya Waloni turut hadir dalam aksi menolak pengesahan Undang-undang atau UU Ciptaker bersama kelompok Islam lain di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa 13 Oktober 2020 kemarin. Selain itu, dia juga sempat melakukan orasi atau pidato di hadapan demonstran lainnya.

Dalam beberapa kesempatan, Ustaz Yahya Waloni memang kerap mengkritisi kebijakan pemerintah. Bahkan, pada aksi demo tersebut, dia yang mengenakan pakaian serba putih dan topi berlafaz tauhid, membuat rekaman video yang berisikan ketidaksukaan dia pada pemerintahan saat ini.

Baca juga: Teriakan lantang FPI di demo UU Ciptaker: Tak ada pilihan, copot Jokowi!

“Assalamualaikum, saat ini saya sedang berada di aksi 13 Oktober 2020, usai memberikan orasi, menanamkan nilai ketauhidan demi tegaknya NKRI dan Islam di masa yang akan datang,” ujar Ustaz Yahya melalui video yang banyak beredar di media sosial, dikutip Kamis 15 Oktober 2020.

“Jamaah, bersatulah kita. Lihatlah antusias umat menyongsong kemenangan, rezim ini bakal ditumbangkan,” sambungnya.

Ustaz Yahya Waloni. Foto: Suara

Terkait hal itu, mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean melalui akun Twitter pribadinya turut memberikan tanggapan. Ferdinand menilai, keinginan Ustaz Yahya Waloni meruntuhkan rezim saat ini sejatinya hanya sekadar angan-angan dan terkesan tidak masuk akal.

Alih-alih meruntuhkan rezim yang sedang berkuasa, Ferdinand—dengan nada bercanda—menantang Ustaz Yahya Waloni menggulingkan kekuasan Kepada Desa atau Kades. Jika itu saja tak sanggup, kata dia, maka jangan bermimpi bisa menumbangkan kekuasaan besar.

“Numbangin kepala desa aja dulu coba. Bisa apa enggak? Jangan ketinggian mimpinya jika yang kecil-kecil saja tidak tergapai. Hidup itu butuh rasionalitas dan nalar yang hidup. Tuhan berikan kita otak untuk berpikir, bukan untuk ngawur, apalagi berhalusinasi,” tulis Ferdinand Hutahaean.

Desakan Jokowi mundur kian kuat

Pada demonstrasi menolak UU Ciptaker pada Selasa 13 Oktober 2020 lalu itu, kelompok Islam yang hadir terbilang banyak, yakni berasal dari FPI, PA 212, dan GNPF Ulama. Seluruhnya tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Komunis atau ANAK NKRI.

Para pendemo dari sejumlah ormas gabugan seperti PA 212 dan FPI saat menggelar unjuk rasa di DPR. Foto: Suara.com
Para pendemo dari sejumlah ormas gabugan seperti PA 212 dan FPI saat menggelar unjuk rasa di DPR. Foto: Suara.com

Dalam orasinya, Pengurus FPI DKI Jakarta, Salman Alfarisi mengatakan, pengesahan UU Ciptaker sudah membuat resah banyak pihak. Namun, dalam hal tersebut, pihak yang patut disalahkan bukan hanya DPR sebagai legislator, melainkan juga presiden. Itulah mengapa, dia meminta, Jokowi untuk segera menanggalkan jabatannya.

“Beberapa waktu lalu, kawan kita dari buruh, dari mahasiswa, mereka menuntut membatalkan Omnibus Law digagalkan. Sebagian  masih menyatakan bilang Omnibus Law itu kesalahan DPR. Bukan hanya kesalahan legislatif, tetapi biangnya eksekutif,” ujar Salman saat orasi di atas mobil komando, dikutip dari Era.

“Tidak ada pilihan kecuali meminta untuk bapak Jokowi mundur, betul?” serunya seakan melempar pertanyaan retoris ke massa yang datang. Mereka pun menyaut ‘betul’ dengan serempak.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close