Fit

Tak cuma WHO, pakar sebut Vaksin Covid-19 perlu rekomendasi SAGE

SAGE merupakan kelompok pakar internasional pendamping WHO.

Hampir 2 tahun pandemi covid-19 belum berakhir. Sejak awal 2021 keberadaan vaksin terus digalakkan demi menekan kasus yang terus bertambah.

Di sisi lain Pemerintah di seluruh dunia sedang gencar menjalankan program vaksinasi. Diketahui saat ni vaksin COVID-19 tengah didistribusikan ke seluruh masyarakat Indonesia.

Pemberian vaksin ini merupakan solusi yang dianggap paling tepat untuk mengurangi jumlah kasus infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19. Namun banyak yang bertanya-tanya dari mana sih terciptanya kebijakan soal vaksin di seluruh dunia?

Mengenai cara pengambilan kebijakan tentang semua vaksinasi, maka WHO mengandalkan rekomendasi dari “Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) on Immunization”.

Tjandra Yoga Aditama foto: Suara
Tjandra Yoga Aditama foto: Suara

Lebih lanjut, SAGE merupakan kelompok pakar internasional ini mengadakan pertemuan pada 4 sampai 7 Oktober 2021 dan menghasilkan berbagai rekomendasi, baik untuk vaksin COVID-19, vaksin malaria, vaksin Influenza dll.

Laporan lengkap pertemuan ini akan dipublikasi di “Weekly Epidemiological Record” dalam waktu mendatang ini.
 
Hal itu dijelaskan Prof Tjandra Yoga Aditama Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Ia mengatakan ada 3 hal khusus tentang vaksin COVID-19 yang SAGE sampaikan.

“Pertama, SAGE melakukan analisa vaksin Covaxin yang diproduksi perusahaan India Bharat Biotech. Kalau vaksin ini sudah mendapat “Emergency use of Listing (EUL)” dari WHO maka SAGE akan menyampaikan rekomendasi kebijakannya,” katanya lewat pesan singkat yang dikirim ke HOPS Rabu 13 Oktober 2021.

Ilustrasi vaksinasi di Amerika Serikat. Foto: Kompas
Ilustrasi vaksinasi di Amerika Serikat. Foto: Kompas

Hal ke dua, disebutnya bahwa SAGE menyatakan bahwa pada pasien dengan gangguan imunologis (“immunocompromised“) sedang dan berat perlu ditawarkan untuk mendapat suntikan tambahan dengan vaksin-vaksin yang sudah mendapat “Emergency use of Listing (EUL)” dari WHO.

“Hal ini karena mereka tidak mendapat respon adekuat sesudah mendapatkan vaksinasi COVID-19 selama ini, dan akibatnya mereka jadi ber risiko tinggi untuk dapat  COVID-19 yang berat,” katanya.
 
Hal ke tiga, mereka yang berusia 60 tahun ke atas yang sudah menerima vaksin inaktivasi merek Sinovac dan Sinopharm perlu ditawarkan untuk mendapat suntikan dosis ke tiga homolog.

“Penggunaan vaksin heterolog sebagai suntikan ke tiga dapat juga dipertimbangkan berdasarkan ketersediaan dan akses terhadap vaksin yang ada.”

Dalam menerapkan rekomendasi ini maka negara harus terlebih dahulu berupaya maksimal untuk cakupan dua kali suntikan vaksin, dan kemudian memberikan suntikan ke tiga yang dimulai dari para lanjut usia.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close