Trending

TNI unggah video sumpah setia pada negara, Pengamat: Efek Habib Rizieq

Beberapa waktu lalu heboh aksi oknum TNI yang dihukum karena dianggap melanggar disiplin militer, usai sambut Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Dari sana TNI pun belakangan mengunggah video deklarasi kesatuan, semacam sumpah untuk setia pada negara.

Banyak pihak pun kemudian mengkaitkan, apakah unggahan TNI saat ini soal deklarasi kesatuan, ada hubungannya dengan Habib Rizieq?

Baca juga: Biar cerdas, ini lho isi full ceramah Habib Rizieq soal penggal kepala penghina nabi

Terkait hal ini, Pengamat Politik Ujang Komarudin membenarkan, efek kasus oknum prajurit dan Habib Rizieq. Menurut dia, itu memang patut dilakukan oleh TNI agar prajuritnya tidak ‘acak-acakan’.

Apalagi jika ada prajurit yang dianggap memihak, sudah menjadi hal yang mahfum untuk dilakukan penindakan.

“Saya kira tindakan pimpinan TNI bagus, tentu mereka ingin menjaga negeri ini. Sebab tentu TNI tak ingin lihat bangsa ini hancur. Kalau tidak dilakukan, bisa jadi akan diikuti prajurit lain,” kata Ujang disitat Tagar TV, Rabu 18 November 2020.

Prajurit TNI AU, Serka BDS (Habib Rizieq)
Prajurit TNI AU, Serka BDS. Foto Twitter @digeeembokfc

Pada kesempatan itu, Ujang pun menyatakan, apabila TNI tentu khawatir di kondisi negara seperti yang sekarang ini, takut ada tentaranya yang tidak solid.

Luapan emosi

Pada konteks oknum TNI yang sambut Habib Rizieq, Ujang menilai aksi itu belum masuk ranah radikal. Sebab dia melihatnya sebagai hanya perilaku psikologi. Dalam konteks kode etik, perilaku memihak memang tidak boleh.

Penyebabnya peristiwa prajurit itu pun dinilai bermacam-macam, mulai dari luapan emosi, merasa kurang diperhatikan kesejahteraannya sebagai TNI, sampai pada dorongan psikologis untuk bersama-sama dengan rakyat menyambut Habib Rizieq karena framing ketokohannya.

“Tetapi kalau memang ada yang disusupi, ini perlu diantisipasi. Sebab tentara harus netral, dia adalah alat pertahanan negara yang menjaga kedaulatan negeri ini,” katanya.

Sejauh ini, Ujang menilai, TNI adalah insititusi yang paling disukai oleh rakyat. Sebut saja mulai dari tiap ada bantuan sosial, tentu tentara yang pertama bergerak.

Mereka melakukan itu secara ikhlas, kendati pasca reformasi kesejahteraan prajurit TNI jauh berbeda dari Polisi.

Singgung kesejahteraan TNI-Polri

Ujang kemudian mengurai bagaimana ada oknum TNI yang kemudian merasa bagian dari rakyat. Mereka seakan memahami kesulitan, terlebih mereka juga demikian.

Inilah yang dinilai bisa membuat khawatir, sebab dalam kondisi saat ini, di saat negara butuh tentara yang solid, ada prajurit yang justru tidak memihak pada bangsa dan negara.

TNI-Polri. Foto: Pos Papua.
TNI-Polri. Foto: Pos Papua.

“Saya lihat ada banyak faktor. Katakanlah ada kelompok tentara yang seperti itu. Seperti kita tahu pasca reformasi tentara memang kembali ke barak. Mereka kurang diperhatikan, berbeda dengan Polisi saat ini. Di saat ini, yang kaya-kaya itu polisi, yang miskin TNI,” katanya lagi.

Maka, tak mengherankan ada kecemburuan, semisal terjadinya bentrok dua aparat itu di beberapa kesempatan. Padahal, kata Ujang, negara harus menjamin juga kehidupan prajurit TNI.

“Banyak teman-teman tentara yang miskin-miskin, teman saya kolonel mobilnya jelek. Sementara Kapolres yang saya kenal, luar biasa mobilnya banyak. Saya kritisi karena faktanya memang seperti itu. Dalam suasana seperti itu, ada ungkapan kekesalan itu,” katanya lagi.

Soal kesejahteraan prajurit TNI sendiri, setidaknya juga disinggung mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Saat tidak hadir dalam penerimaan tanda jasa Bintang Mahaputera, di surat yang dikirimnya ke Jokowi, salah satu poinnya meminta agar Pemerintah harus perhatian degan TNI.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close