Trending

Viral! Perwira Polri dihujani tembakan KKB Papua, tapi mati rasa dan cuma kram

Aksi seorang perwira Polri, Iptu Anton Tonapa tesiar ke wajah publik lantaran kisah keberaniannya yang dihujani peluru oleh teroris Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.

Kejadian itu bermula saat Iptu Anton dipercaya menjadi komandan Tim (Dantim) Bravo 9 Belukar dan ditugaskan untuk menumpas kelompok teroris di Papua.

Dalam tugasnya, Anton kemudian dikabarkan tertembak saat terjadi kontak senjata dengan KKB Papua di Kabupaten Puncak. Beruntungnya nyawa Anton masih berhasil diselamatkan meski punggungnya tertembak.

Awal mulanya, aparat kepolisian yang saat ini merupakan Perwira Pertama (Pama) SDM Polda Sulawesi Selatan ini dipercaya menjadi Dantim Bravo 9 Belukar.

Iptu Anton Tonapa. Foto: Antara
Iptu Anton Tonapa. Foto: YouTube

Ketika ditugaskan tim ini awalnya merupakan tim evakuasi, namun akhirnya ditugaskan menjadi tim penindak hanya satu hari berselang sebelum melaksanakan tugas.

Adapun peristiwa menegangkan itu terjadi pada 26 April 2021 silam.

Berdasarkan kisah yang diungkapkan Anton, kala itu dia bersama rekan setimnya melakukan observasi di Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.

“Saya datang ke Papua untuk menjaga NKRI,” kata Anton, mengutip Antara, pada Selasa, 31 Agustus 2021.

Akan tetapi, terjadi perubahan strategi tepat satu hari, yakni pada tanggal 26 April 2021 sebelum tim gabungan TNI-Polri mengeksekusi rencana penindakan mereka terhadap KKB Papua.

Hal ini bertujuan untuk menggantikan dua Tim Nanggala dan satu Tim Belukar yang telanjur diketahui KKB Papua. Sebelumnya, ketiga tim tersebut merupakan tim penindak.

Dihujani peluru dari KKB Papua

Iptu Anton pun mengisahkan ketika dia bersama timnya melakukan observasi di Ilaga Kabupaten Puncak, Papua. Saat itu, regunya dihujani tembakan sebanyak tiga kali dan membidik rekannya, Bharada I Komang Wira Natha (yang saat ini berpangkat Bharatu Anumerta).

Kemudian ternyata tembakan tersebut mengenai lengan, punggung, dan kaki Komang. Sebagai seorang komandan, Anton mengatakan bahwa dirinya merasa sangat terguncang atas tertembaknya seorang prajurit yang berasal dari timnya.

Terlebih, Anton memiliki kedekatan erat dengan Komang.

Saat itu, ketika Komang masih meneriakkan rasa sakitnya, Anton merasa bahwa Komang masih bisa diselamatkan. Oleh sebabnya dia meminta agar timnya melakukan evakuasi dengan sigap dan penuh kehati-hatian di tengah hujan peluru yang berasal dari bukit.

Komang berhasil diamankan oleh rekan-rekan satu timnya, tetapi penyerangan masih terus berlanjut sampai akhirnya timah panas yang berasal dari KKB Papua berhasil mengenai punggung Anton.

Dia menjelaskan, sontak tubuhnya terasa kram dan bahkan sempat mati rasa.

Refleks, Anton merebahkan tubuhnya dan mengamankan diri di tempat Komang sempat berlindung.

Evakuasi baku tembak dengan KKB Papua. Foto: Ist
Evakuasi baku tembak dengan KKB Papua. Foto: Ist

Baku tembak yang terjadi mengakibatkan helikopter evakuasi tidak dapat melakukan pendaratan. Ditambah lagi, mobil dan kendaraan lainnya juga tidak dapat digunakan untuk mengevakuasi mereka akibat medan yang terlalu ekstrem.

Walhasil, Anton bersama rekannya terpaksa diarahkan untuk melakukan evakuasi dengan berjalan kaki.

Padahal dalam kondisi ekstrem dan dihujani peluru itu, selain Komang dan Anton, terdapat pula Muhammad Syaifiddin yang terkena tembakan di bagian perut.

Kondisi tersebut mengakibatkan tim yang dipimpin Anton merasa terpukul. Terlebih ketika Komang menghembuskan napas terakhirnya sebelum mendapat perawatan di rumah sakit.

Suasana berkabung menyelimuti seluruh anggota tim yang terlibat. Akan tetapi, perasaan tersebut tidak menghentikan semangat perjuangan mereka.

“Saya, dalam keadaan luka dan berdarah, berjalan kaki sejauh satu kilo,” tutur Anton.

Ketika telah mencapai medan dengan situasi yang lebih kondusif, helikopter yang berasal dari Polri akhirnya datang dan berhasil melakukan pendaratan.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close