Trending

Viral, warganet yang jadi korban fetish kain jarik ramai-ramai buka suara

Akun Twitter @m_fikris (Mufis) membuat utas yang berujung viral di dunia maya. Hal ini lantaran ia mengaku pernah menjadi korban penyimpangan seksual (fetish) yang memiliki ketertarikan dengan kain jarik.

Baca Juga: Tips gunakan 5 fitur dasar di TikTok, video kamu bakal auto cetar

Mufis mengaku bahwa pelaku bernama Gilang dan berasal dari salah satu PTN di Surabaya. Awalnya, pelaku mengontak Mufis melalui DM Instagram dan meminta nomor Whatsapp. Setelah diberikan, pelaku pun membujuk Mufis untuk membantunya dalam riset akademis tentang “bungkus-membungkus”.

Jadi karena dalam kondisi pandemi corona, Mas membuat terobosan baru dalam riset Mas, yaitu bungkus lewat jarak jauh,” tulis pelaku dalam pesan Whatsapp kepada Mufis.

Pelaku kemudian menginstruksikan agar Mufis diikat seluruh badan dengan kain, layaknya pocong.

Dokumentasi korban yang tertipu oleh pelaku fetish berkedok riset Foto: Twitter @m_fikris
Dokumentasi korban yang tertipu oleh pelaku fetish berkedok riset Foto: Twitter @m_fikris

Tak hanya itu, Mufis beserta kawan-kawannya juga diperintah untuk mengeluarkan emosi, seperti menangis, takut, gugup, dan merengek dalam keadaan terbungkus.

Keanehan mulai terjadi ketika pelaku meminta Mufis beserta kawan-kawannya untuk tidak membocorkan riset tersebut ke siapa pun. Pelaku berkilah khawatir jika risetnya akan disalahpahami.

Karena keprivasian, riset ini harus terjaga benar-benar sebelum sepenuhnya selesai. Karena kalau di grup, orang yang gak bersangkutan atau gak dimintai tolong bisa salah paham,” tulis pelaku dalam pesan Whatsapp.

Beruntungnya, Mufis segera mengetahui bahwa pelaku memiliki ketertarikan seksual atau fetish kepada kain jarik. Dengan begitu, Mufis dan kawan-kawannya telah menjadi korban dalam aksi penyimpangan seksual tersebut.

Nah setelah gw ngobrol ama temen gw. Katane hal2 kek pocong (dibungkus jarik) itu adalah fetish/kink gitu lah. Gw dikasih link beritane, gw kirim ke Gilang dong. Dan ampe gw nulis ini gak dibales,” cuit Mufis dalam utasnya pada Rabu, 29 Juli 2020.

Menurut Mufis, pelaku biasa menyasar mahasiswa baru sebagai korbannya.

Akibat pengakuan Mufis, banyak korban lain yang juga ikut buka suara terkait hal ini. Mereka mengaku pernah mendapat pesan dari pelaku yang sama. Selain itu, modus yang digunakan pun serupa.

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh akun Twitter @methodologistID sebagai berikut.

Kasus ini untuk pelajaran ya guys, jangan sampai niat baik membantu orang malah disalahgunakan. Selalu hati-hati di dunia maya, hindari lakukan hal yang tidak kamu pahami atau terasa janggal. Stay safe! (CTH)

Topik
Back to top button
Close