Trending

Wajar rupiah ngamuk jadi Rp13 ribu, pemerintah utang besar-besaran

Selama beberapa hari terakhir rupiah nampak ngamuk ke level Rp13 ribu. Begitupula pagi ini, di mana nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau di angka Rp13.928. Tetapi menguatnya rupiah belakangan disebut karena utang.

Angka ini tentu menunjukkan kalau rupiah sudah menunjukkan performa yang luar biasa sejak memasuki kuartal II-2020. Selepas Maret yang menggila, kini rupiah seakan langsung balas dendam.

Baca juga: Sedang menguat, inilah sejarah perjuangan rupiah di Indonesia

Atas pencapaian ini banyak pihak kemudian bangga setengah mati. Bagaimana tidak, ini merupakan rekor usai Indonesia dihantam badai corona.

Secara data, rupiah kini sudah menguat secara year-to-date meski apresiasinya tipis 0,29 persen. Tidak banyak mata uang yang bisa melakukannya.

Di antara mata uang utama dunia, rupiah kini berada di peringkat ke-6. Rupiah menjadi satu-satunya mata uang ASEAN yang masuk klub elite tersebut.

Rupiah kuat karena utang?

Namun bulan madu rupiah yang dialami beberapa waktu belakangan dituding wajar terjadi, karena pemerintah mengambil utang secara besar-besaran. Hal ini seperti yang dikatakan pakar ekonomi senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Faisal Basri.

“Harus diingat bahwa rupiah menguat adalah refleksi dari pasokan dolar yang meningkat luar biasa masuk ke Indonesia dari utang global bonds,” kata Faisal dalam sebuah diskusi online di Jakarta, disitat Suara, Kamis, 10 Juni 2020.

Lulusan Universitas Vanderbilt ini juga mengatakan, pemerintah Indonesia mengambil utang lebih banyak di saat pandemi Covid-19. Surat utang global yang masuk itu bentuknya berupa valuta asing (valas) yang kepemilikan seluruhnya 100 persen dipegang asing.

Faktor lainnya, berasal dari terbitnya surat utang (SUN) yang bentuknya denominasi rupiah dengan bunga yang tinggi.

“Nanti akan kita lihat global bonds ini, ada yang berupa valas yang 100 persen dimiliki asing. Kemudian ada setiap periode pemerintah itu mengeluarkan surat utang dari denominasi rupiah, bunganya tinggi sekali tujuh persen, delapan persen,” ujarnya.

Rupiah sebagai mata uang resmi milik Republik Indonesia. Foto: Antara
Rupiah sebagai mata uang resmi milik Republik Indonesia. Foto: Antara

Dirinya pun mengingatkan, banyaknya jumlah modal asing yang ada di Indonesia disebabkan oleh kebijakan likuiditas di berbagai negara yang disebabkan oleh diberlakukannya kebijakan quantitative easing dengan nilai hingga ratusan triliun rupiah.

Berdasarkan data miliknya, Faisal juga mengungkapkan hingga bulan Desember tahun 2019 lalu, Indonesia menjadi negara tertinggi di dunia dengan local currency yang dimiliki oleh asing mencapai porsi sebesar 38,7 persen.

Ia pun membandingkan dengan yang terjadi di Jepang yang utang pemerintahnya lebih besar daripada Indonesia, namun yang membedakan utang tersebut dipegang oleh warga negaranya sendiri.

Rupiah kuat, merugikan

Dirinya pun mengingatkan pemerintah, dengan pemberlakuan masa transisi PSBB menuju kenormalan baru, pengguatan rupiah semacam ini tidak akan berlangsung lama dan membahayakan bagi kesehatan likuiditas sistem keuangan Indonesia.

Suasana digerbong KRL ketika diberlakukan PSBB. Foto: Antara
Suasana digerbong KRL ketika diberlakukan PSBB. Foto: Antara

Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, menguatnya nilai rupiah ini justru merugikan pelaku eksportir dalam negeri.

Pasalnya, hampir sebagian besar transaksi ekspor menggunakan dolar AS sementara nilai dolar yang semakin murah. Hal itu juga akan memicu penurunan pendapatan negara dari sektor devisa.

“Jadi daya saing kita agak alrming juga, jadi penguatannya Pak Gubernur harus di adjust (penyesuaian) dikit nih Pak,” ujarnya. (re2)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close