Fit

Sedih, wanita ini mengaku kecanduan makan abu kremasi suaminya yang sudah meninggal

Sedih, wanita ini mengaku kecanduan makan abu kremasi suaminya yang sudah meninggal

Seorang wanita mengaku dirinya kecanduan makan abu kremasi mendiang suaminya. Wanita asal Amerika bernama Casie itu kehilangan Sean suaminya yang meninggal karena serangan asma fatal 2 tahun setelah mereka menikah.

Pada 2019, Casie yang patah hati menceritakan kisahnya ke salah satu acara TV TLC’s My Strange Addiction bahwa ‘dunianya berhenti berputar’ setelah kematiannya dan karenanya, dia memutuskan untuk membawa abunya ke mana pun dia pergi.

“Saya membawa suami saya ke mana-mana, ke toko kelontong, berbelanja, ke bioskop, keluar untuk makan, ke mana pun saya pergi dia pergi.”

Tak cuma itu adiksi membawa abu mendiang suaminya berkembang menjadi keinginan untuk mencicipi abu tersebut. Ia beranggapan dengan menyecap abu suaminya ia merasa dirinya dan sang suami lebih menyatu.

Awalnya ia mencoba memindahkan abu suaminya ke wadah baru, namun beberapa serpih abu jatuh dan ia merasa sebagian serpih abu itu adalah suaminya.

Ilustrasi sosok wanita. Foto: Ist.
Ilustrasi sosok wanita. Foto: Ist.

“Saya tidak ingin menghapusnya dengan lap, itu suami saya, saya tidak ingin menghapusnya, jadi saya hanya menjilatnya dari jari saya.”

Sejak itu ia merasa kegiatan menjilat abu sebagai pengobat rasa kangen terhadap suaminya.

“Dan di sinilah aku hari ini hampir dua bulan kemudian dan aku tidak bisa berhenti, aku memakan suamiku.”

Casie mengatakan dia menjilat abu antara lima sampai enam kali sehari. “Pertama saya menjilat jari saya dan saya tidak hanya mencelupkannya ke dalam abu, kemudian saya memakannya,” ujarnya dilansir laman DailyStar.

Ia juga menggambarkan rasa yang ia dapatkan ketika menjilati abu tersebut. “Rasanya seperti telur busuk, pasir, dan amplas. Awalnya tidak suka tapi kemudian ada rasa puas.”

Ia mengaku kehilangan 21 kilogram berat badannya sejak sang suami meninggal. Mengonsumsi abu mendiang suaminya bisa jadi terapi mengembalikan nafsu makan.

“Saya kehilangan 42 pon sejak suami saya meninggal. Pada dasarnya, satu-satunya hal yang saya makan adalah abunya, itu bagai terapi penyembuh bagi saya.”

Casie mengatakan memakan abu tanpa membuatnya merasa bersalah. Ia bahkan merasakn kebahagiaan.

“Ketika saya membuka guci, saya merasakan kebahagiaan, itu seperti adrenalin bagi saya dan semakin saya makan semakin bersemangat saya sampai saya menyadari tidak banyak yang tersisa. Kemudian beberapa menit kemudian saya merasa ngeri karena saya melakukannya.”

Di sisi lain ada hal yang kerap membuatnya merasa bersalah. Ia mengerti apa yang dilakukannya tak ubahnya bagai pesakitan.

“Itu membuat saya merasa malu, malu, jijik dengan diri saya sendiri, bingung, gila – Anda harus menjadi orang yang benar-benar sakit untuk memakan abu seseorang.”

Casie juga khawatir jika keinginan ini semakin besar, ia akan memakan seluruh abu suaminya. “Mengetahui bahwa saya sudah kehilangan setengah kilo dari sisa-sisa abu saya merasa khawatir apakah bisa menahan diri kelak,” tutupnya.

Setelah menceritakan kasus ini ke publik, Casie dibantu pihak keluarga untuk menyembuhkan perasaannya. Tidak dipungkiri bahwa apa yang dialami Casie adalah sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan mentalnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close