Trending

Warga bongkar sosok TNI yang ditembak Polisi di kafe: Dia disuruh bosnya

Hari ini publik digegerkan dengan pemberitaan anggota TNI AD yang ditembak Polisi di sebuah kafe dangdut di Cengkareng, Jakarta Barat. TNI itu adalah Praka MKRS.

Tidak hanya sendiri, selain Praka MKRS ada dua orang pegawai kafe yang turut menjadi korban keganasan Bripka CS. Anggota TNI dan ketiga orang lain (satu luka-luka), ditembaki Polisi berinisial Bripka CS usai tak mau membayar tagihan minuman sebesar Rp3,3 juta.

Warga pun kemudian mengungkap sosok Praka MKRS tersebut. Menurut salah seorang juru parkir yang tak mau disebut namanya, anggota TNI korban penembakan Cengkareng sehari-hari memang berjaga di situ.

Dia selalu berada di RM Cafe untuk mengawasi kafe tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Iya jaga di situ, tiap hari emang disuruh ngawasin di situ,” ujar sang juru parkir, kepada wartawan, dikutip Kamis 25 Februari 2021.

Ilustrasi senjata api. Foto: Pexels
Ilustrasi senjata api. Foto: Pexels

Dalam catatannya, Praka MKRS sudah tiga bulan bertugas menjaga keamanan kafe tersebut. Dia tahu nama lengkap sang anggota TNI, karena saban hari memang kerap berinteraksi dengannya.

“Ditugasin buat jaga. Sudah lama juga sih, sebulan lebih ya bangsa tiga bulanan,” katanya.

“Ya dia kan disuruh bosnya suruh jagain situ, namanya orang minum-minum kan resek-resek apa ya kan, takut ada keributan di situ.”

Kafe dangdut itu selalu ramai

Sementara itu, keterangan lain disampaikan salah seorang warga, bernama Mirza. Dalam wawancaranya dikutip Kompas TV, dia mengaku diberitahu warga lain kalau ada pembunuhan di RM Kafe.

Dimana korbannya, salah satunya adalah anggota TNI yang ditembak Polisi. Dia tak tahu kalau ada tiga korban tewas, dan satu luka-luka. Sebab Mirza mengaku cuma mendengar satu kali letusan senjata.

“Terus ada tembakan satu (kali). Enggak banyak tembakannya, enggak dengernya cuma satu saja, tus (bunyi), begitu,” kata dia.

Bripka Cornelius
Bripka Cornelius foto: Suara.

Kendati begitu, bisa saja dirinya salah, karena cuma sekali mendengar suara letusan senjata.

Selama ini, Mirza memberi kesaksian kalau lokasi kasus penembakan memang kerap ramai dikunjungi orang. Oleh warga, kafe itu disebut menawarkan tempat hiburan malam.

“Kafe di dalamnya kayak dangdutan, selama ini sering ramai, tempat hiburan. (Selama ini) Enggak tutup, bukanya jam 12.00 malam. Sering ramai tiap malam. Tapi baru sekarang ada kejadian keributan,” katanya lagi.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close