Fit

Warga kampung ini kompak jual ginjal buat beli rumah, tapi ujungnya semua nyesal

Apa jadinya jika warga satu kampung kompak jual ginjal mereka ke ‘pedagang organ’. Di mana hasil pen-jual-an ginjal mereka diperuntukkan untuk membeli rumah. Bayangkan, satu kampung kompak menempuh cara tersebut.

Ya, setidaknya potret inilah yang terjadi di sebuah kampung bernama Hokse di Nepal. Saking terkenalnya fenomena ini, kampung itu bahkan dijuluki ‘Lembah Ginjal’.

Baca juga: Duka wanita tersubur di dunia, suami kabur tak sanggup nafkahi 44 anak

Kisah ini bermula saat desa tersebut disatroni ‘calo organ’. Mereka memang kerap blusukan ke desa-desa di sekitar Kathmandu untuk mencari korban, dibujuk dengan sejumlah uang untuk diambil ginjalnya.

Seperti disitat Dailymail, beberapa penduduk desa Hokse mengatakan kalau mereka terjebak bujuk rayu pedagang ginjal. Saat dibujuk para calo organ itu bilang ginjal mereka bakal tumbuh kembali usai dioperasi. Sehingga tak perlu takut hilang satu ginjal sementara.

Warga kompak tunjukkan bekas pengangkatan ginjal. Foto: Dok Daily Mail.
Warga kompak tunjukkan bekas pengangkatan ginjal. Foto: Dok Daily Mail.

Menurut Geeta (37 tahun), warga Hokse, dia dan suaminya adalah salah satu penduduk yang kepincut dengan uang yang ditawarkan calo organ. Keduanya lalu sepakat jual ginjal mereka kepada si calo organ.

Untuk satu ginjal, dihargai 1.300 Poundsterling atau setara Rp23 jutaan. Uang baru diperoleh usai mereka pergi ke rumah sakit di India terlebih dahulu untuk diambil organnya.

“Aku tergiur karena memang ingin punya rumah sendiri. Anak saya sudah empat, tentu pengin punya rumah batu untuk kami tinggal,” kata Geeta.

Jangan heran murahnya harga rumah di sana ya. Karena memang di sana adalah wilayah miskin. Geeta sendiri mengaku kalau operasi pengangkatan ginjal hanya membutuhkan waktu setengah jam.

Walau begitu, dia tetap di rumah sakit selama tiga minggu sampai kondisinya pulih. “Ketika saya bangun setelah operasi, saya merasa tidak ada yang terjadi dan saya terkejut bahwa itu (pengambilan ginjal) sudah dilakukan,” katanya.

“Saya kemudian dibayar Rp23 jutaan dan pulang ke desa saya untuk membeli rumah,” kata dia.

Bagi orang Nepal, kata dia, memiliki rumah sendiri yang dibangun di atas tanah sendiri merupakan sebuah kebanggaan dan impian masyarakat di sana.

Habis dikocok gempa

Bukan cuma Geeta, kisah serupa juga banyak disampaikan warga penduduk di Hokse. Baik pria dan wanita, mereka kebanyakan memiliki tanda bekas operasi pengangkatan ginjal.

Seperti yang disampaikan warga lainnya, Athur. Dia mengaku nekat jual ginjal usai kena bujuk rayu adik iparnya.

“Adik ipar saya membujuk saya untuk menjual ginjal saya dan mengatakan bahwa manusia hanya membutuhkan satu ginjal. Akhirnya ksaya jual ginjal dan membeli rumah, kata dia.

Menurut dia, para calo organ gencar mendatangi warga-warga miskin di Hokse. Mereka berusaha membujuk mereka yang tinggal di sana untuk mengikuti operasi jual ginjal di India selatan, di mana perdagangan organ adalah bisnis yang besar dan menggiurkan.

Biasanya, para calo organ menggunakan sejumlah trik dan taktik untuk memaksa korban berpisah dengan organ vitalnya. Salah satunya adalah bermain pada kenaifan mereka – dan memberi tahu mereka ginjal mereka akan tumbuh kembali usai diangkat.

“Selama sepuluh tahun, orang-orang datang ke desa kami, mereka selalu meyakinkan kami dengan cara tersebut. Awalnya kami tidak mau. Tetapi karena iming-iming uang dan banyak warga yang sudah melakukan itu, akhirnya saya tergiur.”

Tetapi, semua impian warga Hokse luluhlantak usai gempa pada April 2015 memporakporandakan rumah mereka. Rumah yang dibangun dari hasil jual ginjal, roboh dikocok gempa 7,6 skala richter. Banyak pula warga yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Warga frustasi

Kejadian itu berbuntut panjang. Banyak warga tertekan. Sejumlah penduduk di sana bahkan mulai jadi pemabuk untuk menenggelamkan kesedihan mereka.

Lantaran mereka sadar, bukan cuma rumah yang sudah hancur, tetapi sadar kesehatan mereka perlahan memburuk.

Walau begitu, kasus penjualan ginjal sendiri ternyata kian meluas di Nepal. Alhasil, perdagangan yang berkembang pesat telah mengubah wilayah di Nepal menjadi ‘bank ginjal’, yang oleh para ahli medis memperkirakan angkanya berlipat.

Rumah warga Hokse runtuh disapu gempa. Foto: AFP.
Rumah warga Hokse runtuh disapu gempa. Foto: AFP.

Perdagangan ilegal ini telah naik ke tingkat yang diperkirakan 10.000 operasi pasar gelap yang melibatkan organ manusia yang dibeli sekarang terjadi setiap tahunnya. Ini merupakan data yang disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia.

Global Financial Integrity juga menyebut, terdapat 7.000 ginjal diperoleh secara ilegal setiap tahunnya. Laporan yang sama menunjukkan perdagangan organ ilegal telah menghasilkan keuntungan hingga 650 juta Poundsterling tiap tahunnya.

Dari data yang ada, operasi perdagangan organ dilakukan dengan sejumlah cara. Ada yang membujuk usai membaca keputusasaan finansial, ada pula yang dilakukan dengan cara penculikan, hingga sejumlah kasus penipuan.

Topik

1 Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close