News

Waswas konser mau diproses, Rhoma Irama harap Bupati Bogor canda

Musisi dangdut kondang, Rhoma Irama kembali menjadi sorotan publik terkait aktivitas manggungnya di Bogor yang dinilai melanggar pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Atas aksinya Bupati Bogor, Ade Yasin Munawaroh meminta semua pihak yang terlibat sebagai penyelenggara dan pengisi acara termasuk Rhoma Irama diproses secara hukum.

Baca juga: Pendakwah ini setuju revisi Pancasila sila pertama, tapi begini bunyinya

Menanggapi hal tersebut, pria berjulukan Raja Dangdut itu mengunggah video klarifikasi melalui akun media sosial intragram pribadinya. Dirinya pun mengatakan, bahwa ia harus kembali membuat klarifikasi terkait laporan Bupati Kabupaten Bogor yang menilai adanya pelanggaran PSBB.

Rhoma pun berdalih tak melanggar pemberlakuan PSBB karena ia hanya diundang saja dan tidak menggelar konser bersama grupnya.

“Waduh saya terpaksa mesti klarifikasi lagi nih, tiba-tiba ada berita saya mau diproses hukum oleh ibu Bupati kabupaten Bogor, karena dengan alasan katanya Rhoma melanggar PSBB dengan menampilkan live konser. Sebetulnya begini, bahwa saya datang itu atas undangan dari Pak Surya karena dengan catatan komitmen waktu itu, tidak akan menyelanggarakan penampilan Soneta Grup,” kata Rhoma melalui instagram pribadinya, @rhoma_official, pada 30 Juni 2020.

Sosok Rhoma Irama. Foto: Instagram
Sosok Rhoma Irama. Foto: Instagram

Dalam kesempatan itu, dirinya mengatakan hanya sebagai tamu undangan yang menghadiri sebuah acara. Oleh sebab itu, menurut Rhoma yang seharusnya bertanggung jawab adalah pihak penyelenggara. Jika memang dirinya sebagai tamu harus diproses secara hukum, maka tamu-tamu lainnya juga harus diproses.

“Saya harap saja bupati juga bercanda, sebab kalau memang serius, sebenernya yang bertanggungjawab ya yang mengadakan pagelaran, yang mengadakan acara itu. Saya (tamu) undangan, kalau saya sebagai undangan harus bertanggungjawab berarti seluruh tamu undangan yang ada di situ harus diproses secara hukum juga,” ujar Rhoma sambil tertawa.

Meski dilarang berkumpul saat pemberlakuan PSBB, dalam kesempatan itu dirinya menegaskan hanya mengetahui diundang untuk berkumpul dan memberikan ceramah singkat saja. Namun ketika ia memberikan cermah singkat, tiba-tiba tamu undangan lain memintanya untuk bernyanyi. Rhoma pun menyanggupi permintaan itu dengan menyanyikan beberapa lagu saja.

“Jadi saya datanglah sendirian, dengan baju sederhana saja, nggak pakai jas, nggak pakai batik. Karena undangan Pak surya itu kita kumpul-kumpul saja. Nah sampai sana ternyata, orang ramai, undangannya resmi, dan ada bunga-bunga. Di sana saya lihat juga ada panggung, ada live musik, bahkan penyanyi-penyanyi Ibukota tampil di sana. Saya pikir ini sudah aman,” jelasnya.

Rhoma Irama ketika memberi ceramah. Foto: Instagram
Rhoma Irama ketika memberi ceramah. Foto: Instagram

“Nah di panggung itu ketika saya memberikan tausiah singkat pasti saya didaulat untuk bernyanyi, saya menyanyilah satu dua lagi, kan ini sesuatu yang wajar sekali, normal wajar,” sambungnya.

Dirinya menyayangkan dan merasa aneh jika ia harus berurusan dengan hukum. Rhoma pun mempertanyakan mengapa Bupati Kabupaten Bogor tidak melarang kegiatan tersebut sejak awal. Pasalnya, sejumlah acara telah digelar beberapa hari sebelum dirinya datang.

“Ini buat saya aneh saja gitu ya. Seandainya mau diproses secara hukum, tentunya kan ibu Bupati yang punya wilayah, begitu berdiri panggung sejak hari Sabtu mestinya dilarang kalau memang tidak boleh. Bahkan malamnya ada wayang golek, terus paginya ada penampilan musik, mestinya dilarang. Saya datang sore hari tapi kenapa tiba-tiba saya yang jadi sasaran, saya yang harus mempertanggungjawabkan ini,”

Pengakuan pihak Bupati Bogor

Bupati Bogor Ade Yasin menjelaskan, sejak awal telah mengirimkan surat pelarangan konser musik kepada pihak penyelanggara maupun Rhoma Irama dalam acara khitanan putra dari Abah Surya Atmaja.

“Tim sudah ke sana (kirim surat) dan mereka berkomitmen tidak akan melaksanakan, termasuk statement dari Rhoma Irama, jadi kita percaya itu,” kata Ade kepada wartawan di Cibinong, Kabupaten Bogor.

Kendati demikian, dirinya mengaku kecewa terhadap pihak penyelenggara karena secara tiba-tiba acara tersebut tetap dilaksanakan.

“Tetapi, pada hari H mereka tetap tampil. Kita sebetulnya marah, kecewa juga, kenapa mereka melanggar komitmennya sendiri dan semalam kita sudah pantau untuk berusaha menghentikan dan akhirnya berhenti pukul 23.00 WIB,” ungkap Ade. (re2)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close