Trending

Youtuber Mesir dipenjara gegara prank anak: Apa kabar Raffi Ahmad?

Raffi Ahmad berkali-kali lakukan prank anak, terakhir Rafathar mengaku sedih dan kesal.

Baru-baru ini kepolisian Mesir mengamankan pasangan suami istri Youtuber, Ahmad Hassan dan Zeinab. Keduanya ditangkap karena tuduhan eksploitasi anaknya (prank anak) yang berusia satu tahun sebagai lelucon di akun Youtube mereka.

Dalam tuduhannya, kedua pasangan itu dituduh mengeksploitasi anak mereka demi kontan, keuntungan finansial, hingga mengambil untung dari trauma sang anak.

Baca juga: Gideon sebut Rafathar tak pernah jenguk, Nagita Slavina: Papa lagi kumat

Dilansir Rol, permintan penanggakapan tersebut diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam tuntutannya pasangan tersebut dianggap telah meneror putri mereka yang baru berusia satu tahun, Eileen, sebagai lelucon dalam sebuah video yang diposting di saluran Youtube mereka, yang memiliki hampir enam orang juta pengikut.

Karena video tersebut, keudua pasutri itu bisa menghadapi hukuman penjara menyusul salah satu video lelucon yang menunjukkan reaksi putri mereka melihat wajah hitam ibunya dan anak itu menangis sementara orang tuanya tertawa.

Video tersebut memicu amarah dari penonton di media sosial dan beberapa menyerukan pihak berwenang menyelamatkan anak tersebut dari orang tuanya. Insiden sebelumnya termasuk video di mana Zeinab berpura-pura tidak responsif sementara putrinya menangis minta perhatian.

Egypt Independent melaporkan reaksi publik mengarah ke pengaduan yang diajukan ke Dewan Nasional untuk Anak dan Ibu (NCCM), yang kemudian menyerahkan laporan ke Jaksa Penuntut Umum untuk membuka penyelidikan. Direktur Umum Saluran Bantuan Anak NCCM, Sabri Osman, mengatakan video-video ini menampilkan perilaku sembrono orang tua.

Selain itu, tujuannya mencapai ketenaran dan mengumpulkan uang, yang telah mereka dapatkan dari popularitas saluran Youtube mereka dengan mengorbankan kesejahteraan putri mereka.

“Kejadian serius ini merupakan pelecehan anak yang bisa melibatkan hukuman penjara seumur hidup dan denda 31.722 dolar AS (Rp 470 juta),” ujar Osman dilansir dari Middle East Monitor, Sabtu 19 September 2020.

Sekretaris Jenderal NCCM, Sahar Al-Sonbaty mengatakan penerbitan video tersebut merupakan pelecehan anak dan melanggar Pasal 80 Konstitusi Mesir yang mengatur hak-hak anak dan menyebutkan,

“Negara harus merawat anak-anak dan melindungi mereka dari semua. bentuk kekerasan, pelecehan, penganiayaan, dan eksploitasi komersial dan seksual.”

Dia menambahkan itu juga melanggar Pasal 96 Undang-Undang Anak Mesir, yang mencakup kasus apa pun yang melibatkan ancaman pengasuhan yang aman yang menjadi hak semua anak di bawah hukum.

Di Indonesia artis ngeprank anak sudah biasa

Jika Mesir telah menetapkan undang-undanag bagi para pelaku prank yang melibatkan anak, sayangnya di Indonesia belum menerapkannya.

Hal itu terlihat dari berbagai aktivtas video prank yang ada di Indonesia. Tak hanya itu, dominasi prank terhadap anak juga dilakukan beberapa artis ibu kota.

Yang baru-baru ini heboh adalah curhatan Rafathar yang marah karena berkali-kali diprank oleh kedua orangtuanya yaitu Raffi Achmad dan Nagita Slavina.

Rarathar, putra Nagita Slavina dan Raffi Ahmad Foto: Instagram
Rarathar, putra Nagita Slavina dan Raffi Ahmad Foto: Instagram

Nama Rafthar sempat jadi trending di twitter Indonesia pada 25 Agustus 2020 lantaran video QnA yang dilakukan Nagita. Dalam video itu Nagita menanyai Rafathar soal prank yang kerap ditujukan padanya.

Video berdurasi 50 detik itu merupakan potongan dari siaran langsung di Instagram Raffi dan Nagita pada Jumat malam, 21 Agustus 2020.

Nagita yang sedang melakukan live bersama Rafathar tiba-tiba ditanya oleh netizen. Pertanyaan tersebut dibaca Nagita dan langsung disampaikan kepada Rafathar yang berada di sampingnya tengah asik menonton televisi.

Nagita meminta Rafathar untuk menyebutkan video yang ia maksud. “Enggak lihat emang? Hah? Vlognya hah? Kan divideoin. Poop, jin, om Baim di sini terus tidur,” kata Rafathar yang terlihat cukup kesal karena berkali-kali di prank.

Beberapa waktu lalu Raffi dan Nagita menjahili Rafathar dengan menirukan beberapa prank dari YouTuber Fadil Jaidi.

Raffi dengan sengaja mengoleskan selai cokelat kepada Rafathar. Saat itu Raffi tengah di toilet dan meminta tolong Rafathar untuk memberikan tissue kepadanya. Rafathar menangis saat itu karena ia mengira selai cokelat itu merupakan kotoran Raffi.

Tidak puas dengan itu, Raffi Ahmad juga meyakinkan Rafathar bahwa teko air miliknya berisi jin layaknya di film Aladdin. Raffi dan Nagita kompak menyatakan kalau mereka bisa melihat jin sedangkan hanya Rafathar yang tidak bisa melihatnya.

Raffi Ahmad dan Nagita Slavina
Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Foto: Instagram @raffinagita1717

Baim Wong juga seringkali mengerjai Rafathar dengan berbagai cara. Namun keduanya kini sudah terlihat lebih akur dibandingkan beberapa waktu lalu.

Video Rafathar yang kesal karena sering di-prank langsung mendapat perhatian warganet di Twitter. Mereka merasa kasihan kepada Rafathar yang masih berusia 5 tahun itu karena sering dikerjai oleh orang tuanya dan dijadikan sebagai konten.

Dampak buruk prank bagi Anak

Meski terkesan ‘lucu’lucuan’ namun ternyata prank bisa berakibat buruk bagi anak.

Dilansir laman Mother and baby, Luh Surini Yulia Savitri, S.Psi., M.Psi.,Psikolog, psikolog anak dan remaja dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI, Depok menyebut ada konsekuansi yang harus diterima orangtua jika melakukan prank kepada anak.

Menurut Vivi bahaya prank bagi anak-anak di bisa menyebabkan anak melakukan suatu hal yang ia sendiri tidak tahu apa efeknya.

Anak tidak tahu apa akibat dari yang ia lakukan, karena pemikiran anak belum sematang orang dewasa.

“Misalnya anak melihat salah satu idolanya nge-prank di YouTube, bisa jadi kan yang diperlihatkan itu bukan realitas, bohongan, atau di-setting. Nah karena pemikiran anak belum matang, mereka bisa mengambil mentah-mentah, tanpa memikirkan apakah itu setting-an atau bukan,” jelasnya.

Sebaliknya, anak-anak akan berpikir kalau mereka melakukan hal yang sama, maka efeknya juga sama seperti yang ia lihat di video prank.

“Padahal anak tidak tahu, walau ia melakukan prank yang sama, reaksi orang itu bisa berbeda-beda,” tambah Vivi.

Anak juga akan mengalami kemunculan emosi negatif.
Biasanya prank memicu emosi negatif. Orang yang di-prank biasanya akan tersulut emosinya.

Mereka awalnya pasti akan merasa kesal, marah, tersinggung, dan emosi negatif lainnya. Menurut Vivi, dalam psikologi, memicu emosi seseorang itu harus dilakukan secara hati-hati, karena orang yang menyulut emosi tersebut harus bisa mengembalikan emosi atau suasana hati Si Korban prank kembali lagi.

“Masalahnya kan kita tidak tahu kadar yang memicu orang-orang yang di-prank itu sedalam apa. Kalau tidak bisa di-counter, efeknya mungkin tidak hari itu juga, tapi bisa kemana-mana,” terangnya.

Baca juga: Rafathar minta adik bayi, Raffi dan Gigi justru berikan hadiah ini

Selain itu rasa empati anak bisa hilang. Menurut Vivi, secara logika, anak yang sering melakukan prank dan menyulut emosi negatif orang lain, lama kelamaan ia tidak punya rasa empati.

Hal ini dikarenakan anak senang melihat orang lain menderita, atau melakukan prank semata-mata hanya demi kebahagiaan pribadi. Selain itu kebaikan, prososial, dan rasa welas asih juga tergerus.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close